Artikel Utama:
-
Orang Muslim meneruskan tradisi nabi mereka. Kemanapun mereka pergi, mereka menghancurkan tempat-tempat ibadah dan menghina agama orang lain. Mereka tidak menghormati agama orang lain dan pelecehan terhadap kebebasan nurani yang mereka lakukan terus berlanjut hingga hari ini di semua negara Muslim.
-
Sekarang kita tahu bahwa Allah sendirilah yang sepenuhnya bertanggung-jawab atas penyesatan ciptaanNya, misalnya memaksa mereka untuk menjadi orang-orang kafir. Jika demikian, mengapa ia memerintahkan kepada orang-orang Muslim yang menjadi para pengikutNya untuk membunuh orang-orang kafir ini, sebagaimana diperlihatkan dengan sangat jelas di banyak ayat-ayat kekerasan di dalam Quran?
-
Tetapi Tuhan yang benar selalu bisa dikenal secara sederhana oleh semua anak-anakNya, bukan hanya monopoli para ahli agama seperti yang sering dipahami oleh Muslim kebanyakan. Tuhan Semesta ingin diriNya dapat dikenal oleh umat-Nya secara bersahaja, dan telah menyajikan sarana yang cukup agar Dia-lah yang disembah dan bukan tertipu oleh sosok tiruanNya. Ia pertama-tama telah memberikan kepada kita batin nurani terdalam untuk mampu membedakan setan yang Maha Jahat dengan diriNya yang Maha Baik, betapapun itu disamarkan oleh setan.
-
Diakui, Allah SWT islamik tidak pernah memperkenalkan dirinya dan nama-Nya kepada siapapun termasuk Muhammad. Hanya seorang ruh asing (yang belakangan hari dianggap sama dan dinamakan dengan “Jibril”) yang DIKLAIM menyampaikan nama “Allah”, padahal Jibril inipun juga tidak memperkenalkan namanya sendiri kepada Muhammad pada keseluruhan wahyu-Nya di Mekah! (Nama Jibril baru muncul belasan tahun kemudian dan hanya tercantum dalam 3 ayat surat Madaniyah saja, 66:4, 2:97, 98, dan itupun bukan ayat untuk memperkenalkan nama-diri!). Jadi, baik Jibril maupun terlebih-lebih Allah, tak pernah ada wahyu-Nya yang memperkenalkan jati-dirinya, melainkan tiba-tiba dan diam-diam dimunculkan Quran dalam konteks yang tak berkaitan dengan pemberitaan tentang nama-Nya kepada Nabi atau umat-Nya! Suatu kesengajaan?
-
Berbeda dengan hadis, pengumpulan Quran bermotivasi politik tanpa adanya metodologi atau standard pengecekan yang tinggi sebagaimana yang menjadi karakteristik dari pengumpulan hadis. Kelemahan dari Quran terletak pada fakta bahwa apabila ada satu saja kesalahan, katakanlah sebuah kata atau huruf yang salah penempatan, maka ini merupakan sebuah bukti yang sangat kuat untuk mengatakan bahwa seluruh kitab itu adalah sebuah kebohongan.
-
Para Muslim memuja kehebatan dan keunikan Kitab Quran yang dikatakannya sebagai pewahyuan surgawi yang tiada tara. Karena dari surga maka Quran diagungkan sebagai samudera maha luas yang tidak terselami manusia. Quran adalah “larger than life”! Itu sebabnya segala keanehan, kekusutan, dan semua ketidak logisan Quran serentak jadi terselesaikan ketika semuanya itu dianggap dan dinisbatkan sebagai keunikan dan kehebatan dari Kalimat Allah yang tiada tandingannya!
Tetapi sebaliknya, dengan mata telanjang seorang biasa pun mampu melihat sederetan kisah-kisah Quran yang saling tidak menyambung satu dengan yang lainnya. Sama sekali tidak ada satu pola penulisan yang baku, apakah itu kronologis ataupun topikal. Semuanya tercampur baur dan kacau tanpa ada kejelasan sistim maupun urutan.
-
Orang Muslim menuntut agar anjing-anjing dilarang di semua bentuk transportasi publik termasuk semua bis kota juga semua tempat yang banyak terdapat imigran Muslim. Orang Muslim mengatakan, kehadiran anjing-anjing di Lérida menghina kebebasan religius mereka dan hak mereka untuk hidup sesuai prinsip-prinsip Islam.
© Answering Islam, 1999 - 2012. All rights reserved.