AL
MASIH : KESAKSIANNYA MENURUT SEJARAH
SIFAT DAN KEKUASAANNYA
Isa Al Masih, Kelahiran seorang
Perawan
Isa Al Masih, Orang yang Tidak Berdosa
Isa Al Masih, yang Diberkati
Sebagai Manusia yang Memberi
Petunjuk yang Jelas
Kemampuannya Mengetahui yang Ghaib
Kemampuannya Melakukan Mujizat
Kemampuannya untuk Mencipta
Kemampuannya untuk Menghidupkan yang
Mati
PENGAKUAN ALLAH ADALAH LEBIH
AGUNG
Para Nabi Menulis tentang Dia
Al Masih Disujud ketika masih
dalam Kandungan
Al Masih Diberi Wahyu yang
Sempurna
Al Masih Diperkuat oleh Roh
Suci
Al Masih Berkedudukan dekat
dengan Allah
Al Masih Diangkat dekat ke
Sisi Allah
Al Masih Sebagai Pengetahuan
Hari Kiamat
Al Masih, Orang yang Terpilih
oleh Allah dalam Pertempuran Terakhir
Al Masih yang Maha Tinggi Selamanya
SIFAT
DAN KEKUASAANNYA
Dalam Bahagian Pertama kita telah menggambarkan
Isa Al Masih yang akan muncul di masa mendatang. Dalam Bahagian ini kita akan menggambarkan Isa Al Masih yang tampil
sebagai tokoh historis. Kita lihat
pengungkapan watak Isa Al Masih dari Al-Qur’an,
menurut ulasan para akhli kitab dan karya tulis kaum Sufi/Akhli Tasawuf.
Isa Al Masih, Kelahiran Seorang
Perawan
Al-Qur’an dengan jelas mengatakan bahwa
Isa dilahirkan dari seorang perawan. Kejadiannya
digambarkan sebagai berikut:
Dan ingat pulalah ketika Malaikat berkata: “Hai Maryam! Sesungguhnya Allah menyampaikan berita gembira dengan sebuah Kata Cipta daripada-Nya, namanya Al Masih, Isa bin Maryam, orang terhormat di dunia dan di akhirat, termasuk orang-orang yang dekat kepada Allah ...
Kata Maryam: “Wahai Tuhanku! Bagaimana
aku dapat memperoleh anak, padahal aku belum pernah disentuh oleh seorang
laki-lakipun?” Allah berfirman dengan perantaraan Malaikat Jibril: “Begitulah.
Allah menciptakan apa yang Dia kehendaki.
Bila Dia menghendaki sesuatu, hanya tinggal, mengucapkan saja “Kun”
lalu jadilah ia.’
[1]
Dari ayat tersebut kita bisa melihat bahwa Maryam belum pernah disentuh
oleh seorang laki-lakipun dan kelahiran Isa Al Masih nyata sebagai suatu keputusan
Allah. Keunikan Isa Al Masih masuk
ke dalam sejarah bukan semata-mata suatu kejadian alam, tetapi merupakan suatu
mujizat yang disengaja mempunyai satu maksud, di mana Al-Qur’an menyatakan:
Allah mengetahui isi kandungan setiap perempuan, baik kandungan yang kurang,
maupun yang berlebih. Segala-galanya
di sisi Allah serba berukuran.
[2]
Pengetahuan
Allah atas hal tersebut dan maksudnya secara rinci atas ciptaanNya lebih jauh
ditekankan dalam penyataan berikut:
Kami tidak menjadikan ruang angkasa yang amat luas dan persada bumi yang
terhampar ini, begitu juga apa-apa yang berada di antara keduanya, secara
main-main.
[3]
Allah
tidak melakukan hal-hal yang sia-sia, tetapi segala-galanya diciptakan atas
kebijakan-Nya yang Maha Agung dan 5memiliki maksud tertentu. Jadi sementara Allah menetapkan bahwa setiap
manusia ditakdirkan lahir akibat bersatunya laki-laki dan perempuan, Ia juga
menetapkan Isa lahir dari Maryam yang tidak disentuh oleh laki-laki. Hal ini diterima tanpa suatu perdebatan oleh
para ilmuwan Muslim. Keunikan dari
pengakuan tersebut diungkapkan oleh Shabestari dalam penyataannya sebagai
berikut:
Jelas tidak ada orang yang dilahirkan tanpa bapa, hanya seorang saja yakni
Isa yang hidup atau hadir di dunia ini.
[4]
Isa
Al Masih, Orang yang Tidak Berdosa
Salah satu sifat yang unik dari Isa Al Masih adalah
ia tidak berdosa, sementara manusia lainnya bahkan nabi-nabi sekalipun, di
suatu saat sadar atau tidak sadar pernah bersalah dalam pikiran atau perbuatannya.
Hanya Isa Al Masihlah yang tetap suci.
Di dalam Al-Qur’an banyak bukti-bukti yang menunjukkan Adam, Musa dan Muhammad
semuanya pernah berdosa. Ibrahim sendiri
menemukan dirinya perlu bertaubat, meskipun hubungannya dengan Allah dekat
dan Al-Qur’an sendiri mengungkapkannya
dalam suatu soal jawab dengan Allah suatu waktu, ayat itu berbunyi seperti
berikut:
Setelah Ibrahim merasa rasa takutnya hilang bahkan mendapat berita gembira, mulailah
dia berbincang-bincang dengan Kami tentang kaum Luth.[5]
Meskipun
Ibrahim sangat dekat dengan Allah, ia masih mengungkapkan perlunya meminta
pengampunan kehadirat Allah:
“Yang menciptakan aku, dan Dia-lah yang menunjuki aku. Dan yang memberi makan dan minum-ku. Jika aku sakit, Dia-lah yang menyembuhkanku.
Dia yang mematikanku, kemudian Dia pula yang menghidupkanku kembali di akhirat.
Dia-lah yang sangat kuharapkan sudi mengampuni kesalahanku pada Hari
Pembalasan”.
[6]
Musa
yang dikasihi Allah di mana Dia langsung berbicara dengannya,
[7]
juga menemukan dia perlu meminta pengampunan setelah ia
menyerang dan membunuh seorang warga Mesir, dan mengatakan:
Musa berdoa: “Ya Tuhanku! Bahwasanya
aku telah berlaku aniaya terhadap diriku sendiri, karena itu ampunilah aku”.
Lalu Allah mengampuninya. Sesungguhnya
Dia Maha Pengampun dan Penyayang.
[8]
Begitupun
Daud meminta pengampunan Tuhannya sambil menjatuhkan dirinya ke tanah, bersujud
dan meminta ampunan.
[9]
Jadi
ketiga Nabi tersebut: Ibrahim, Musa dan Daud menyadari perlunya pengampunan
dari Allah.
Nabi
Muhammad juga menemukan dosa-dosanya, sebelum ia diangkat sebagai nabi, di
mana ia merasa berat
menanggungnya. Hal ini dibenarkan
dalam Al-Qur’an:
“Bukankah Kami telah melapangkan dadamu? Dan Kami telah menurunkan bebanmu yang telah memberati punggungmu?”
[10]
Beban
yang dipikul Nabi Muhammad di punggungnya bukan berupa beban fizikal, tetapi
beban rohaniah . Kata (Wezr) yang diterjemahkan sebagai “beban”
dalam ayat tersebut di atas merupakan kata
khusus yang bererti dosa dalam bahasa Al-Qur’an. Contoh dalam Al-Qur’an 16:25 yang menyatakan: “Kami
takdirkan mereka berucap demikian, supaya mereka memikul dosanya (awzar, jamak
kepada wezr) sepenuh-penuhnya pada hari kiamat, berikut dengan seBahagian
dosa dari orang-orang yang mereka sesatkan karena tidak mengetahui. Ingatlah, amat buruklah apa yang mereka pikul.”
(Lihat juga pada Al-Qur’an 6:31,
6:164, 17:15, 20:100, 35:18).
Sementara
Al-Qur’an menyatakan dosa-dosa yang
terdahulu dalam fakta kehidupan Nabi Muhammad, dikatakan juga tentang dosa-dosa
“kemudian”:
Supaya Allah mengampuni dosamu yang telah lalu dan yang akan datang, serta
menyempurnakan nikmatNya kepadamu dan memimpinmu ke jalan yang lurus.
[11]
Ini
juga disahkan oleh Hadis yang mengatakan Nabi Muhammad dahulu terbiasa ‘memohon pengampunan dan menghadap Allah bertaubat
lebih dari tujuh puluh kali sehari’
[12]
Bukhari mencatat doa Muhammad meminta pengampunan sebagai
berikut:
Ya, Allah! Ampunilah kesalahan-kesalahanku dan kelalaianku yang melampaui
batas kebenaran dalam perbuatan-perbuatanku; dan ampunilah apa saja yang Engkau
paling ketahui daripadaku sendiri. Ya Allah! Ampunilah kesalahan-kesalahanku
yang disengaja ataupun yang tidak disengaja, yang tidak disadari sebagai olok-olok
atau yang lebih berat, dan semua yang ada dalam diriku
[13]
Memang
benar ia terus meminta pengampunan sampai nafasnya yang penghabisan.
[14]
Dosa-dosa
seluruh umat manusia dibenarkan lebih jauh lagi oleh Hadis yang mengatakan:
‘Syetan selalu bercokol dalam pikiran manusia seperti darah mengalir dalam
tubuhnya.”
[15]
Kecuali
seorang manusia yang oleh Al-Qur’an
ataupun Hadis dianggap suci dari dosa adalah Isa Al Masih. Ia tidak pernah berbuat dosa, tidak berbuat
kesalahan dan tidak pernah melewati batas-batas yang telah ditetapkan Allah
secara sengaja atau karena berbuat bodoh, secara olok-olok atau secara serius,
secara sengaja ataupun tidak sengaja. Isa
Al Masih digambarkan dalam Al-Qur’an
19:19 sebagai ‘seorang putera yang suci (zakeyia)’
[16]
, bahkan sebelum dilahirkan.
Baidawi menjelaskan bahwa ‘seorang anak yang suci berarti suci dari
dosa-dosa’. Di dalam seluruh ayat-ayat Al-Qur’an, tidak ada lagi yang digambarkan
sebagai yang suci kecuali Isa Al Masih.
[17]
Hadis
juga menyatakan bahwa Isa Al Masih sebagai orang yang tidak berdosa. Bukhari,
contohnya mengaitkannya dengan Hadis berikut:
Ketika setiap orang dilahirkan (tersurat: semua anak Adam begitu semasa
mereka dilahirkan), Syetan menyentuh (tersurat: menggosok) kedua belah badannya
dari kanan dan dari kiri dengan kedua jarinya, kecuali Isa anak Maryam, meskipun
ia juga dicoba tapi tidak berhasil.
[18]
Baidawi
menerangkan arti dari ‘sentuhan atau gosokan’ Syetan sebagai ‘upaya menggoda
setiap bayi yang baru lahir sehingga anak tersebut bisa dipengaruhinya’.
[19]
Syetan, musuh berbuyutan Allah dengan demikian
berjuang dengan cara yang tidak adil. Ia
mencari jalan menggoda orang dari saat pertama mereka mulai hidup, dan hanya
seorang manusia yang bisa menguasai Syetan dalam babak pertama ini. Ia adalah Isa Al Masih. Suyuti mengutip Ibni
‘Abbas, yang mengatakan:
Di antara mereka yang dilahirkan, hanya Isa anak Maryam yang tidak disentuh
oleh Syetan dan tidak bisa ditaklukkan olehnya.
[20]
Mengapa
Isa tidak bisa tertandingi dan berbeda? Beberapa orang mengatakan bahwa karena
ia diurapi:
Ia dinamakan Al Masih karena ia diurapinya sehingga membuat dia jadi suci
dari dosa-dosa, atau karena ia diurapi oleh sayap Malaikat Jibril dan dijaga
dari sentuhan Syetan, atau Al Masih berarti orang yang salih.
[21]
Ada
orang-orang yang membedakannya dari sifatnya yang batiniah secara rohaniah Isa Al Masih itu sendiri. Razi mengatakan:
Rohnya (Isa Al Masih) adalah suci, tinggi derajatnya, syurgawi; terang
benderang dengan cahaya kemulyiaan dan sangat dekat dengan roh-roh para malaikat.
[22]
Jadi
Isa Al Masih seperti malaikat-malaikat yang tidak perlu memohon pengampunan
untuk diri mereka. Ia tidak berdosa.
Gelar
Isa yang menyandang “Roh Allah” juga membuktikan kesucian. Beberapa ilmuwan mengatakan bahwa ia disebut
‘Roh Allah’ karena:
Adalah menjadi kebiasaan orang yang menggambarkan sesuatu yang benar-benar
suci dan bersih , mereka menyebutnya sebagai roh..
[23]
Ukuran
tentang sampai di mana sucinya kenyataan Isa adalah seperti berikut: Allah,
Yang Maha Tinggi, Dia sendiri menyebut Isa adalah ‘Roh dari Allah’. Sementara setiap umat manusia telah ingkar
dari kesetiaannya kepada Allah dan tidak lagi takut kepada Allah di suatu
ketika dalam sejarah hidupnya tetapi Isa Al Masih tetap suci bersih, tidak
disentuh oleh Syetan.
Rasa
takut kepada Allah merupakan suatu tolok ukur keimanan seseorang di mata Allah,
sebagaimana ayat Al-Qur’an menyatakan:
Hai manusia! Kami menciptakanmu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan.
Lalu Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu
saling mengenal. Yang teramat mulia di antaramu di sisi Allah,
ialah orang yang lebih bertakwa. Sesungguhnya
Allah Maha Mengetahui dan Mengenal.
[24]
.
Adalah
semata-mata ketaqwaan atau kesalihan, dan bukannya tanda-tanda keindahan duniawi,
kekayaan dan kekuasaan yang dimiliki oleh seseorang sebagai status di hadapan
Allah. Nabi-nabi dan para malaikat juga ditentukan statusnya oleh ketaqwaan
mereka. Tetapi malaikat lebih tinggi
derajatnya daripada nabi-nabi karena:
Mereka para malaikat yang memangku Singgasana dan yang berada di sekitarnya
menyuarakan puji kepada Tuhannya, beriman kepada-Nya dan meminta ampun untuk
orang-orang beriman... (Al-Qur’an
40:7-9)
Razi
mengulas:
Banyak ilmuwan menafsirkan ayat-ayat ini
[25]
sebagai suatu kesimpulan bahwa para malaikat lebih tinggi
derajatnya daripada manusia. Mereka
mengatakan bahwa para malaikat tidak perlu memohon pengampunan bagi dirinya,
karena bila mereka perlu pengampunan, mereka semestinya meminta pengampunan
buat diri mereka sendiri terlebih dahulu, seperti apa yang dikatakan oleh
Nabi Muhammad: “Mulailah bertaubat untuk diri sendiri’.
Juga Allah mengatakan kepada
Nabi Muhammad: ‘... Maka ketahuilah (ya Muhammad) bahwa sesungguhnya tidak
ada Tuhan, melainkan Allah dan minta ampunlah (kepada-Nya) untuk dosa engkau
dan untuk (dosa) orang-orang beriman laki-laki dan orang-orang beriman perempuan. Allah mengetahui tempat mencari penghidupanmu
dan tempat diammu’ (Al-Qur’an 47:19).
Jadi Allah memerintahkan Muhammad untuk memohon pengampunan terlebih
dahulu buat dirinya baru kemudian untuk orang lain ... Dan karena Allah tidak
menyebutkan bahwa para malaikat tidak meminta pengampunan buat mereka sendiri,
kita bisa menyimpulkan bahwa mereka tidak perlu meminta pengampunan.
Para nabi perlu pengampunan dari Allah dan ini sangat jelas dari firman
Allah kepada Muhammad. Kalau memang
ini dipegang teguh maka semakin jelaslah bahwa para malaikat lebih tinggi
daripada manusia.
[26]
Dengan
tidak perlunya pengampunan bagi para malaikat, nampaknya mereka lebih sempurna
dalam kepatuhannya dan rasa takutnya kepada Allah, jadi mereka lebih mulia
dan lebih tinggi derajatnya daripada manusia.
Tidak seperti halnya dengan manusia, para malaikat tidak perlu meminta
pengampunan karena mereka terbebas dari dosa.
Isa Al Masih bisa disejajarkan dengan malaikat dan oleh karena itu,
ia adalah sama-sama suci.
Isa Al Masih, yang Diberkati
Di samping tidak berdosa, Isa
Al Masih juga diberkati. Ia bukan
hanya sempurna secara pasif , tetapi juga sempurna secara aktif . Al-Qur’an menyatakan tentang Isa:
Dan dijadikan-Nya pula aku seorang yang diberkati (Pembawa Bahagia) di
mana saja aku berada.
[27]
Menurut
ayat ini, Isa diberkati tanpa syarat dan untuk selamanya. Andaikata ia tidak
mematuhi Allah baik dalam pikiran atau perbuatan setiap saat, ia tidak akan
mengatakan diberkati di manapun ia berada.
Kata
‘diberkati’ menurut penerangan Baidawi berarti ‘berguna bagi manusia’. Dalam arti kata yang lain, Isa hidup bukan
buat dirinya sendiri, tetapi ia hidup bagi seluruh umat. Arti yang pasti dari ‘berguna untuk manusia’
dijelaskan oleh Razi yang mengatakan Isa:
Melalui Isa Al Masih, Allah membebaskan umat manusia dari segala macam
tipuan, sama seperti manusia hidup dengan Roh-Nya.
[28]
Isa
tidak puas semata-mata bebas dari dosa, tetapi ia juga secara aktif mencari jalan untuk membebaskan orang dari
tipuan Syetan, musuh bebuyutan Allah. Begitu
penting upayanya sehingga Razi membandingkan Isa sebagai Roh yang memberi
kehidupan kepada suatu tubuh. Baidawi
secara sama menggambarkan upaya Isa ketika ia mengatakan bahwa Isa “dahulu
biasa menghidupkan tubuh yang mati begitupun hati yang mati menjadi hidup”.
[29]
Isa
Al Masih tidak hidup hanya menjaga kesucian dirinya, karenanya ia hidup menikmati
hidupnya yang sempurna selaras dengan kehendak Allah. Tetapi ia juga hidup dengan memberi berkat
kepada orang lain. Jadi kesempurnaan Isa Al Masih bukan semata-mata
pasif , yakni tidak berdosa; tetapi juga aktif sebagai suatu sumber berkat .
Dalam
seluruh Al-Qur’an tidak ada seorangpun
yang dipanggil sebagai “diberkati” kecuali Isa Al Masih. Adalah benar bahwa Al-Qur’an itu sendiri digambarkan sebagai suatu kitab suci yang diberkati.
[30]
Perkataan
itu juga digunakan kepada rumah suci yang pertama di Mekah yang telah dibina
oleh para malaikat sebelum penciptaan Adam
[31]
, Malam Lailatul Qadr (malam di mana Al-Qur’an diturunkan)
[32]
. Dan pohon zaitun di mana dianggap sebagai cahaya
Allah atau Nurullah.
[33]
Jadi Isa Al Masih disejajarkan dengan Al-Qur’an, rumah yang pertama kali dibangun
di Mekah, Lailatul Qadr dan pohon zaitun yang diberkati. Kendatipun demikian, satu-satunya orang yang
digambarkan dalam Al-Qur’an sebagai
yang diberkati adalah Isa Al Masih.
Oleh
karena itu, Isa Al Masih adalah tidak berdosa dan diberkati. Syetan tidak bisa menyentuh Isa, yang tetap
sempurna dalam hidupnya sepanjang hidupnya.
Di samping itu, Isa Al Masih dalam menghancurkan pekerjaan Iblis sangatlah
sempurna sehingga ia digambarkan sebagai Roh yang memberi hidup, yang bisa
menghidupkan mereka yang mati karena tipuan-tipuan Syetan. Kesempurnaan Isa Al Masih adalah secara pasif
dan juga aktif . Oleh karenanya dalam
hubungan ini ia memiliki sifat yang tidak ada bandingannya.
Sebagai Manusia yang Memberi
Petunjuk yang Jelas
Jika sifat Isa Al Masih yang tidak berdosa dan diberkati
itu membuat dirinya unik di antara nabi-nabi, maka petunjuk Allah yang diberikan
atau ditanamkan dalam diri Isa adalah benar-benar unik.
Kemampuannya
Mengetahui yang Ghaib
Pengetahuan
tentang yang tidak bisa dilihat atau ghaib merupakan suatu sifat yang agung.
Seperti yang dinyatakan dalam Al-Qur’an:
Dan di sisi Allah kunci-kunci semua yang ghaib,
tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri. Dia mengetahui apa yang ada di daratan dan di lautan. Tidak sehelai daunpun yang gugur tentu diketahui-Nya
juga. Tidak sebutir-bijipun yang tersembunyi
dalam gelap gulita di bumi dan tiada pula benda yang basah dan yang kering,
yang tidak tertulis dalam kitab Lauhul mahfuzh.
[34]
Muhammad sendiri menyatakan dalam Al-Qur’an bahwa ia tidak memiliki pengetahuan
yang ghaib ketika ia mengatakan:
Katakanlah: “Aku tidak mampu meraih manfaat dan
menolak kemelaratan untuk diriku sendiri, kecuali apa yang dikehendaki Allah.
Seandainya aku mengetahui perkara yang ghaib, sudah tentu aku akan
berbuat kebajikan sebanyak-banyaknya, dan waspada terhadap b ahaya yang akan
menimpa. Aku tidak lain hanyalah Pemberi peringatan dan Pembawa berita gembira
bagi orang-orang yang beriman”.
[35]
Dalam ayat lain dikatakan:
Katakanlah!: “Aku tidak mengatakan kepadamu, bahwa
perbendaraan Allah ada padaku! Karena
aku tidak mengetahui yang ghaib. Juga
aku tidak mengatakan kepadamu, bahwa aku seorang malaikat. Aku hanya mengikuti apa yang diwahyukan kepadaku”.
[36]
Oleh karena itu, menurut Al-Qur’an, pengetahuan ghaib bukan urusan
manusia. Allah sendirilah yang mempunyai
kekuasaan untuk memberikannya kepada yang Dia pilih. “Allah sekali-kali tidak
akan membiarkan orang-orang yang beriman dalam keadaan seperti sekarang ini,
namun Allah akan menyisihkan antara yang buruk dan yang baik.
Dan Allah tidak akan memperlihatkan hal-hal yang ghaib kepadamu, akan
tetapi Allah memilih siapa yang dikehendaki-Nya di antara Rasul-Rasul-Nya. Oleh karena itu berimanlah kepada Allah dan Rasul-Nya. Jika kamu beriman dan bertaqwa, niscaya kamu
peroleh pahala besar.”
[37]
Al-Qur’an
menerangkan kepada kita bahwa Allah memilih Isa Al Masih untuk membukakan
hal yang ghaib. Dengan kehendak-Nya
Allah memilih Isa Al Masih dari antara para pesuruh Allah untuk membukakan
hal sekecil apapun dari kehidupan orang, termasuk “apa-apa yang mereka makan,
dan apa yang mereka miliki sebagai kekayaan di rumah mereka”.
[38]
Mereka yang telah mengulas ayat tersebut di atas menyebutkan
banyak ceritera tentang pengetahuan Isa Al Masih akan hal-hal yang ghaib.
Kekuasaan ini hanya kekuasaan Allah yang diberikan kepada Isa Al
Masih sendiri di antara rasul-rasul lain.
Inilah sifat lain yang menambah keunikan Isa Al Masih.
Kemampuannya Melakukan Mujizat
Misi Isa Al Masih di bumi adalah memperbaiki
umat manusia untuk mematuhi Allah. Seperti
yang telah ditegaskan sebelumnya, ia diberi kekuasaan yang unik untuk membebaskan
umat manusia dari tipuan-tipuan Syetan. Ia juga diberi kekuasaan untuk menyembuhkan
orang dari penyakit badani sebagai suatu bukti bahwa ia dikirimkan Allah.
Kekuasaan Isa untuk menhancurkan pekerjaan
Syetan lebih jauh ditunjukkan ketika ia menyembuhkan orang atau mereka yang
sakit. Penyembuhan secara rohani jelas bisa menyembuhkan badan yang sakit.
Ini membuktikan bahwa perkataannya sepadan dengan perbuatannya.
Al-Qur’an
mengatakan bahwa mujizat yang dilakukan oleh Isa Al Masih merupakan “tanda
yang jelas” dari kekuasaan Allah. Tanda
yang jelas ini tidak diberikan kepada semua rasul. Al-Qur’an mengatakan:
Itulah keterangan-keterangan Allah. Kami bacakan kepadamu hai Muhammad, dengan
sebenarnya. Dan engkau sesungguhnya
seorang Rasul di antara rasul-rasul yang lain. Rasul-rasul itu Kami lebihkan
seBahagian mereka dari yang lain. Diantaranya
ada yang langsung Allah bercakap-cakap dengan dia, dan sebagiannya Allah mengangkat
kemuliaannya beberapa derajat. Kami berikan kepada Isa putera Maryam beberapa
mujizat dan kami perkuat dia dengan Roh Suci. Dan kalau Allah menghendaki niscaya orang-orang yang berada sepeninggal
rasul-rasul itu tidaklah akan saling membunuh setelah datang kepada mereka
beberapa keterangan. Namun mereka
berselisih juga, ada di antara mereka yang beriman dan ada pula yang kafir.
Jika Allah menghendaki mereka tidaklah akan saling membunuh.
Tetapi Allah berbuat menurut kehendak-Nya
[39]
Baidawi mengulas ayat tersebut di atas
seperti berikut:
Allah menjadikan mujizat Isa Al Masih sebagai
bukti kecintaan-Nya kepada Isa (melebihi rasul-rasul lain) karena semua mujizatnya
adalah pertanda yang jelas dan luar biasa. Dan semua mujizatnya tidak dilakukan oleh yang lain kecuali dia.
[40]
Mujizat yang khusu dan istimewa ini
membuktikan/menunjukkan bukan hanya kecintaan Allah kepada Isa daripada rasul-rasul
lainnya tetapi juga merupakan ukuran dari kecintaan tersebut. Allah memberikan beberapa rasul kemampuan melakukan
beberapa mujizat, tetapi Bahagian mujizat yang diberikan kepada Isa melebihi
daripada apa yang diberikan kepada rasul-rasul lain. Jadi kita bisa melihat bahwa dengan melakukan
mujizat secara jasmani Isa Al Masih dibedakan.
Ini juga membuktikan kekuasaannya melakukan mujizat secara rohaniah dilebihkan dari yang lain. Jadi kemampuannya melakukan mujizat yang tidak
bisa tertandingi baik secara jasmani maupun rohaniah menunjukkan sifat Al Masih yang unik.
Kemampuannya untuk Mencipta
Sementara kekuasaan Isa Al Masih melakukan
mujizat benar-benar tidak tertandingi, ukuran kekuasaan ini diberikan juga
kepada beberapa nabi lainnya. Tetapi kekuasaan untuk mencipta hanya diberikan
kepadanya. Menurut Al-Qur’an, kekuasaan mencipta ini tidak
dimiliki oleh nabi-nabi yang lainnya.
Al-Qur’an
menantang orang kafir dengan menyatakan:
Hai manusia, telah dibuat orang perumpamaan mengenai
Aku lalu dengar dan pahamilah baik-baik keadaannya, yaitu: segala yang disembah
selain Allah itu tidak akan mampu membuat seekor lalatpun, sekalipun mereka
bekerja-sama untuk itu. Bahkan kalau
lalat-lalat itu merampas sesuatu dari berhala itu, sang berhala tidak dapat
merebutnya kembali dari sang lalat. Yang
menyembah dan yang disembah sama-sama lemah.
[41]
Meskipun demikian menurut Al-Qur’an, Isa adalah satu-satunya orang
yang diberikuasa oleh Allah untuk menciptakan sesuatu dari tanah liat. Al-Qur’an mengutip kata-kata Isa seperti
berikut:
Dan akan dijadikan-Nya sebagai Rasul untuk Bani
Israil. Katanya: “ Aku ini datang
kepadamu membawa tanda mujizat dari Tuhanmu yiaitu aku dapat membuat dari
tanah liat ini rangka burung untuk kalian, kemudian aku tiup lalu menjadi
seekor burung dengan izin Allah. Dan
aku sanggup menyembuhkan orang buta, penyakit kusta, dan menghidupkan orang
mati dengan izin Allah. Lagi pula
aku dapat memberitahukan kepada kalian apa yang kalian makan dan apa yang
kalian simpan di rumah kalian masing-masing. Semua ini adalah menjadi tanda
buat kalian, kalau kalian benar-benar beriman.
[42]
Jadi Al-Qur’an menjelaskan bahwa Isa memiliki kekuasaan untuk menciptakan
sesuatu dari tanah liat, yang menurut beberapa orang sama dengan merubah tongkat
Nabi Musa menjadi ular. Kendatipun
penapsir Al-Qur’an yang cermat membuktikan
bahwa ini bukan hal yang dimaksudkan. Dalam Al-Qur’an,
Allah bertanya kepada Musa:
Apakah itu yang di tangan kananmu, hai Musa?
Musa menjawab: “Inilah tongkatku, alat untuk aku bertelekan, juga untuk
pemukul dahan-dahan kayu supaya daunnya berguguran untuk makanan kambingku,
dan banyak lagi keperluanku yang lain dengan tongkat ini.
Allah berfirman: “Lemparkanlah tongkat itu, hai Musa”.
Segera Musapun melemparkan tongkatnya, serta merta tongkat itu menjelma
jadi seekor ular yang merayap dengan lincah.
[43]
Ketika melihat ular itu melingkar yang
dirubah dari tongkat, Musa berbalik dan lari dengan ketakutan. Tetapi Allah memanggilnya seraya mengatakan:
“Musa jangan takut”.
[44]
Dalam kejadian di atas, Allah melakukan
mujizat untuk meyakinkan Musa akan kekuasaan-Nya. Ketika Musa melemparkan tongkatnya ia tidak
mengharapkanny amenjadi ular, ketika ternyata menjadi ular, ia lari dengan
ketakutan. Jelas dalam kejadian ini,
bukan Musa yang keluarkan langkah pertama, tetapi Allah-lah yang melakukan
perubahan itu.
Mujizat yang sama juga dilakukan di
depan Firaun ketika Allah “memberikan wahyu kepada Musa, “lemparkan tongkatmu”.
Sekonyong-konyong Ular (tongkat) itu menelan semua ular mereka.”
[45]
Dalam kejadian tersebut, Musa tidak
melakukan apa-apa lagi kecuali mentaati perintah Allah seperti sebelumnya. Allah menyuruhny untuk melemparkan tongkatnya
dan Musa menurut saja. Jadi yang berinisiatip
adalah Allah bukannya Musa. Memang
itulah sifat-sifat bagaimana Allah memberikan mujizat kepada Musa, seperti
yang bisa dilihat dari berbagai kejadian lainnya. Contohnya, sewaktu Bani Israil sedang haus,
ada perintah Allah menyuruh Musa untuk memukul batu
[46]
, dan ketika mereka keluar dari Mesir sebelum menyebrangi
laut Allah memerintah Musa untuk
memukulkan tongkatnya pada air laut ‘...lalu belahlah laut itu, sedangkan
masing-masing belahannya seperti gunung yang besar’.
[47]
Dalam setiap kejadian-kejadian tadi,
Allahlah yang menjadi pembuat inisiatip.
Bukan Musa yang mengendalikan waktu dan cara bagaimana mujizat bisa
dilakukan, tetapi Allahlah yang melakukannya.
Ketika Isa melakukan penciptaan, Allah
membiarkan Isa melakukan inisiatip sendiri dalam melakukan mujizatnya dan
memberikan hidup. Ayat Al-Qur’an menggambarkan kegiatan-kegiatan
Isa dalam pengertian berikut:
Aku ini datang kepadamu membawa tanda mujizat
dari Tuhanmu yaitu aku dapat membuat dari tanah liat ini rangka burung untuk
kalian, kemudian aku tiup lalu menjadi seekor burung dengan izin Allah. Dan aku sanggup menyembuhkan orang buta, penyakit
kusta, dan menghidupkan orang mati dengan izin Allah. Lagi pula aku dapat memberitahukan kepada kalian
apa yang kalian makan dan apa yang kalian simpan di rumah kalian masing-masing.
Semua ini adalah menjadi tanda buat kalian, kalau kalian benar-benar beriman.
[48]
Isa tidak disuruh Allah menghidupkan
orang yang mati atau menyembuhkan orang buta sebagaimana Musa. Tetapi Allah melebihkan Isa dengan kekuasaan
yang diberikan-Nya mempunyai hak berinisiatip. Musa tidak meniupkan sesuatu
roh pada tongkatnya supaya menjadi ular, tetapi Isa meniupkan roh pada tanah
dan jadilah makhluk hidup darinya.
Ibn ‘Arabi, seorang penulis Sufi agung
dalam menjawab pertanyaan berikut, “Dengan cara bagaimana Allah membedakan
setiap rasul?”, ia menjawab:
Allah memberikan Adam pengetahuan an Nama-nama Agung, kepada Musa dengan
berbicara kepadanya dan dengan Taurat, dan membedakan Rasulullah [Muhammad]
apa yang Muhammad sebutkan sendiri “Ia
diberikan kebesaran berbicara”. Kepada
Isa Allah membedakannya dengan roh,
ditambah dengan meniupkan roh pada yang ia ciptakan dari tanah, itu hanya
kepada Isa saja,dan Allah tidak menambah kuasa untuk memberi kehidupan melalui
hembusan kepada rasul yang lain kecuali
Isa, selain dari diri Allah Yang Maha Tinggi sendiri.
[49]
Penciptaan makhluk hidup tidak begitu
saja diberikan kepada nabi-nabi lainnya, tetapi hanya kepunyaan Allah semata
dan hanya diberikan kepada Isa Al Masih.
Kemampuannya untuk Menghidupkan yang Mati
Al-Qur’an
menyatakan dengan jelas bahwa Isa menghidupkan orang mati:
Dan Allah akan mengajarkan kepadanya menulis dan
membaca Kitab-kitab Suci, ilmu kebijaksanaan, taurat dan Injil ...dan menghidupkan
orang mati dengan izin Allah. ... Semua ini adalah menjadi tanda buat kalian,
kalau kalian benar-benar beriman.
[50]
Hadis juga mendukung kenyataan ini
dengan menyebutkan nama-nama orang yang dibangkitkan kembali oleh Isa Al Masih
bahkan setelah tubuhnya membusuk. Para mufasir setuju bahwa kekuasaan untuk
menghidupkan orang mati adalah keMaha-Kuasaan Allah; yang kepunyaan Allah
sendiri saja. Al-Qur’an menyatakan:
Dan dia membuat perumpamaan bagi Kami sambil melupakan
penciptaannya semula. Ia bertanya:
“Siapa pulakah yang dapat menghidupkan kembali tulang-belulang yang telah
hancur?” Jawablah: “Yang dapat menghidupkannya
kembali, ialah Allah yang telah menciptakannya dahulu untuk yang pertama kalinya.
Dia Maha Mengetahui tentang segala makhluk”.
[51]
Karena Allah sebagai Pencipta atau
Sumber Hidup, maka Dia sendiri yang bisa menghidupkan orang yang mati. Suyuti dalam ulasannya menghubungkan dua kejadian
Isa menghidupkan orang yang mati dengan penekanan yang khusus – atas suara
Isa. Dalam kasus pertama Isa membangkitkan
Sam anak Nabi Nuh:
Bani Israil datang kepada Isa memohonnya sambil
berkata: “Sam anaknya Nuh dikuburkan di sini, tidak jauh. Mohonlah kepada Allah untuk menghidupkannya
kembali. Isa kemudian memanggilnya
dengan satu teriakan dan Sam keluar dari kubur dengan rambut beruban. Orang-orang
berseru: “Ia meninggal ketika ia masih muda, mengapa rambutnya jadi putih?” Sam menjawab: “Ketika aku mendengar
suara Isa, aku pikir ‘satu teriakan’”.
[52]
Dalam kasus kedua, Isa membangkitkan
saudara laki-lakinya:
... Ketika Isa diberitahu di mana kuburannya,
Ia memanggilnya dengan teriakan satu kali, saudara laki-lakinya keluar dengan
rambut beruban/putih ... Isa bertanya kepadanya:
‘Apa yang terjadi kepadamu?’ Dia menjawab: ‘Aku mendengar suaramu dan aku
pikir itu sebagai ‘satu teriakan’.
[53]
Dari dua cerita di atas, kita bisa
melihat suara Isa dipahami sebagai suatu teriakan yang akan membangkitkan
orang mati di Hari Kiamat. Orang-orang
yang dibangkitkan memahami hal itu dan sampai rambut mereka berubah menjadi
putih.
Acuan ini terdapat dalam Al-Qur’an 73:17:
Mana bisa kamu akan dapat menyelamatkan diri dari
“huru-hara goncangan suatu hari”, di mana anak-anak dapat beruban karena memikirkan kedahsyatannya
kalau kamu tetap saja kafir.
Dan dalam Al-Qur’an juga disebutkan pada 38:15: “Mereka tiada menanti, melainkan
suatu teriakan yang tidak dapat ditarik kembali”.
Ibn ‘Arabi, dalam Fusus Al-Hikam, mengatakan tentang Isa
menghidupkan kembali orang yang mati:
Katanya, ketika ia menghidupkan orang yang mati,
memang dia dan bukan dia (yakni, yang bisa menghidupkan berkat kekuasaan Allah)
dan orang yang menyaksikan tercengang seorang manusia bisa menghidupkan kembali
orang yang mati, sementara dengan sifatnya yang agung menghidupkan orang hanya
dengan suatu teriakan ... orang-orang yang menyaksikannya tetap bingung karena
melihat tindakan yang agung itu dilakukan oleh seseorang yang berbentuk manusia
(yaitu Isa).
[54]
Qashani mengulas kata-kata Ibn ‘Arabi
tersebut sebagai:
Kebingunan timbul ... begitu orang melihat seorang
manusia tanpa suatu keraguan dan dari dirinya muncul sifat yang agung; yakni
menghidupkan orang yang mati, dengan satu teriakan memohon berkat Allah.
Baginya (Isa) biasa berkata kepada orang yang mati “Hidup! Bangkitlah
dengan izin Allah atau dengan Nama Allah, atau dalam Allah’; dan orang mati
akan bangkit dan sambil menjawab, “Inilah aku, siap melayani (atau mengabdi)”.
[55]
Dalam
Hadis yang dikutip oleh Suyuti, Isa membangkitkan Sam dan saudara laki-lakinya
hanya dengan suatu teriakan, bukan dengan doa.
Ia memanggil mereka dari dunia mati ke dalam dunia hidup kembali seperti
memanggil seseorang dari satu kamar ke kamar yang lainnya. Isa memiliki kewenangan atas dunia kematian.
Al-Qur’an tidak menyebutkan ada
nabi lain yang bisa menghidupkan orang mati dengan atau tidak seizin Allah.
PENGAKUAN
ALLAH ADALAH LEBIH AGUNG
Para
Nabi Menulis tentang Dia
Di
Bahagian Pertama kita sudah melihat bahwa jelas nabi-nabi sungguh-sungguh
memperlihatkan pada dua tokoh yang penting.
Mereka bernubuat tentang Al Masih yang benar sambil memperingatkan
akan Al Masih palsu, yakni si Dajjal. Razi
mengatakan bahwa menurut para akhli pikir Muslim:
Isa
disebut sebagai Firman Allah, karena telah dinubuatkan tentang dirinya dalam
Kitab-kitab Suci nabi-nabi sebelumnya.
[56]
Sebaliknya, Hadis memperingatkan akan datangnya
si Dajjal, Al Masih yang palsu yang nabi-nabi peringatkan pula kepada bangsa/umatnya,
seperti halnya Nabi Nuh peringatkan:
Aku peringatkan terhadap dia dan tidak ada satu orang nabipun yang tidak
memperingatkan umatnya terhadap si Dajjal.
Bahkan Nabi Nuhpun mewanti-wantikan.
[57]
Isa
tidak dinubuatkan hanya sambil lalu saja oleh satu atau dua orang nabi. Tetapi nubuat akan dia sangat jelas, banyak,
dan spesifik bahwa ia disebut sebagai Firman Allah. Nabi-nabi hanya bisa mengatakannya karena semata dikomunikasi oleh
Allah, sehingga sangat jelas bahwa nabi-nabi sebelum dia meramalkan atau bernubuat
akan dia. Tidak ada nabi lain yang mendapat perlakuan dan perhatian Ilahi
yang sangat agung.
Jika
perhatian seperti itupun diberikan kepada si Dajjal, itu adalah karena si
Dajjal mewakili kegelapan dan penipuan yang luar biasa dalam sejarah umat
manusia. Sedangkan perhatian yang serupa diberikan kepada Isa adalah karena
ia mewakili yang sebaliknya. Perhatian
nubuatan agung yang diberikan kepada Isa adalah karena dia merupakan suatu
manifestasi teragung nur/cahaya dan kebenaran yang ilahi dalam sejarah umat
manusia.
Jika
iblis dan orang kafir dengan kuatnya menentang Isa, para nabi yang diberi
wahyu oleh Allah mengakui akan kekuasaan dan kepentingannya. Nabi Yahya ialah salah satu contohnya.
Al Masih Disujud ketika masih
dalam Kandungan
Isa
adalah satu-satunya nabi yang dijunjung tinggi selagi ia masih dalam kandungan
ibunya. Para mufasir sepakat bahwa
Nabi Yahya adalah orang pertama yang percaya bahwa Isa adalah Firman Allah.
[58]
Sebenarnya ia melakukan hal itu
sementara mereka masih dalam kandungan ibu mereka. Razi melaporkan ceritera
berikut yang juga dilaporkan oleh Ibn Khatir:
... Ibu Isa bertemu dengan Ibunya yahya, keselamatan bagi mereka. Kedua
ibu itu sedang hamil: yang satu mengadung Isa; yang satu lagi mengadung Yahya.
Ibu Yahya bertanya kepada Maryam, “Engkau rasakan ada bayi dalam kandunganku?”
Maryam berkata: “Aku juga sedang mengandung.” Maka isteri Nabi Zakaria berkata:
“Aku menemukan bahwa bayi di dalam kandunganku bersujud kepada bayi dalam
kandunganmu”.
Inilah yang diartikan pengakuan Yahya atas percayanya kepada Isa sebagai Firman Allah, yang ditemukan dalam Al-Qur’an 3:39 ... Yahya akan mengakui kerasulan Isa yang dilahirkan denga