AL-NAJAH --PENYELAMATAN DARI TUHAN

 

KESULITAN MANUSIA           

Allah Mencipta, Syetan Membinasa           

Apakah Allah Merencanakan Dosa dan Kematian Adam?           

Kegentingan Dosa Adam           

Apakah Dosa Adam Hanyalah Satu Kelalaian?
Adam Dijerumuskan  kepada ‘Tempat yang Serendah-rendahnya’           

Pengaruh Dosa Adam Keatas Keturunannya
Mana Jalan Keluar?            
Daya-usaha Adam Tidak Mencukupi
Pengampunan Saja Tidak Cukup

 

PENCIPTAAN SEMULA MANUSIA           

Rencana Penyelamatan           

Kecakapan-kecakapan Adam           

Bagaimana Manusia Bisa Dicipta Semula?

Transaksi Kehidupan           

Bantahan           

Siapa Yang Bisa Menjadi Perantara?           

Bantahan tentang Keturunan Adam           

 

PENGAJARAN-PENGAJARAN DARI ALLAH           

Ajaran-ajaran Allah Perkuatkan Ciptaan Baru Itu           

Suatu Pelajaran dari Peraturan Pemakanan

Isa adalah Halal Allah Selamanya           

Sunna Ibrahim           

Suatu Pelajaran dari Berpuasa           

Rahmat Sebenarnya           

Suatu Pelajaran Dari Alam           

Pilihan Yang Paling Jelas           

 


AL-NAJAH --PENYELAMATAN DARI TUHAN

 

KESULITAN MANUSIA

 

Selama ini kita telah melihat berapa untaian bukti yang berlainan tentang Isa Al Masih dan personanya, dan menyimpulkan bahwa sesungguhnya dia adalah Firman Allah dan Roh Allah yang Kekal.  Selanjutnya, kita telah melihat bahwa Firman Kekal yang dalam bentuk seorang manusia, telah mati di atas kayu salib di dunia ini sekitar 2000 tahun lepas.  Dia kemudiannya dibangkitkan dari maut dan diangkat untuk berada di sisi Allah.

            Bagaimanapun, kita masih mempunyai satu persoalan yang kritis: Mengapa Isa harus mati?  Mengapa Firman Allah yang Kekal itu, yang merupakan Wangi Allah dan Nur Cahaya Allah, harus mati didalam orangnya sendiri?  Banyak orang berpendapat apa yang dia lakukan  adalah telalu heboh untuk dipahami.  Apakah tujuan Allah  dalam mengizinkan semua ini berlaku?

            Sesungguhnya Allah mempunyai tujuan, dan untuk mengetahui tujuan-Nya itu, pertama sekali kita perlu melihat kesulitan umat manusia dan kedudukannya didepan Allah yang Maha Kuasa.

 

 

Allah Mencipta, Syetan Membinasa

 

Setiap orang yang beriman tidak akan menyangkal bahwa setiap sesuatu dicita oleh Allah dan karena itulah, Dia adallah Allah keatas semua ciptaan-Nya.  Kuasa-Nya untuk mencipta itulah yang memisahkan-Nya dari dunia ciptaan dan ini merupakan ciri teristimewa-Nya.  Dia adalah Tuhan kita karena Dia mencipta kita, dan mereka yang menyembah-Nya berbuat demikian karena Dia adalah Pencipta kita.

            Syetan, musuh Allah, menantang Allah sebagai Pencipta dan karena itu Dia adalah Tuhan.  Untuk mencapai hasratnya itu, Syetan menggoda Adam dan berjaya membuatnya mengingkari Penciptanya. Akibatnya, Adam mati dan kembali kepada tanah, dia tidak dibenarkan Allah masuk kembali ke dalam Taman Indah yang telah dikenalinya itu.  Jadi, Allah mencipta Adam daripada tanah dan Syetan ‘membalik-cipta’nya, menyebabkan tubuhnya dikembalikan kepada tanah.

            Memang benar Allah bisa membangkitkan Adam dari mati, tapi masalah keingkaran Adam meskipun begitu  tetap tinggal. Kematian jasadnya adalah satu manifestasi kematian rohaninya.  Al-Qur’an menyatakan bahwa Allah mencipta manusia dalam keadaan yang sempurna, tapi selepas keingkarannya manusia terjerumus ke tempat yang serendah-rendahnya. [1] Melaui keingkaran Adam Syetan merusak dan membinasakan ciptaan Allah, dan dengan itu ia menantang Allah sebagai Pencipta.

 

 

 

Apakah Allah Merencanakan Dosa dan Kematian Adam?

 

 

Ada orang mengatakan bahwa Allah merencanakan untuk kehadiran dosa dan kematian Adam; bahwa dosa telah ditakdirkan untuk Adam dan maut sebagai sebagian dari penciptaannya.  Bagaimanapun ini bukanlah kasusnya. Walaupun Allah tahu Adam akan berdosa, Allah tidak menciptakan manusia untuk dosa, menghadapi maut atau tinggal secara kekal di dalam Neraka.  Bagaimana kita tahu tentang perkara ini?

            Pertama, Allah memberi perintah kepada Adam untuk tidak memakan buah dari pohon larangan itu.  Jika Allah telah mentakdirkan bahwa Adam harus berdosa atau menciptanya dengan kecondongan terhadap dosa, mengapa mesti Dia mengarahkannya supaya jangan memakan buah dari pohon terlarang itu?  Jika Allah mentakdirkan dia harus berdosa, mengapa mesti Dia mengukum Adam bila dia mengingkari?  Kenyataan bahwa Adam berada di Firdaus selagi dia berterusan mentaati Allah membuktikan bahwa maksud Allah untuk Adam bukan untuk berdosa, karena hanya setelah Adam berdosa barulah Allah menyingkirnya dari Firdaus.

            Kedua, jika dosa telah diperturunkan ke dalam sifat manusia semasa ia dicipta supaya lumrah baginya untuk berdosa, Allah tidak akan meletakkannya di Firdaus, suatu tempat kesucian dan kebenaran,

            Ketiga, Allah tidak mencipta Adam untuk mati, karena Adam akan terus tinggal di Firdaus jika dia terus menaati Allah. Jika maut telah diperturunkan ke dalamnya, Adam mungkin akan mati di Firdaus.  Ini adalah tidak mungkin karena tidak ada kematian di Firdaus.

            Jadi Allah tidak merencanakan dosa dan maut sebagai sebagian daripada penciptaaan Adam.  Adam mempunyai pilihan untuk tidak berdosa dan tidak mati, tapi dia memilih yang sebaliknya.  Jadi maut masuk ke dalam dunia melalui keingkaran Adam.  Maut bukan satu perbuatan penciptan tapi satu tindakan penghukuman; jadi maut bukan sebagian dari penciptaan Adam tapi sebagai satu tindakan penghukuman ke atasnya.

            Al-Qur’an menyatakan bahwa manusia diciptakan ‘dalam bentuk yang sebaik-baiknya (ahsan taqween).’ [2] Kata ‘taqween’ yang diterjemah sebagai ‘sebaik-baiknya’ datangnya dari kata dasar ‘mostaqeem’ yang bermaksud lurus, seperti yang digunakan dalam ungkapan ‘jalan yang lurus’ yang didapati banyak kali dalam Al-Qur’an, terutamanyan dalam Surah pembukaan Al-Qur’an dimana  permintaan ‘Pimpinlah kami ke jalan yang lurus (mostaqeem)’ [3] . Allah mencipta Adam dalam jalan yang lurus dan meletakkan jalan yang lurus di dalamnya. Jadi Allah mencipta manusia lurus dalam sifatnya dengan tidak ada kecondongan kepada dosa.

            Kepercayaan bahwa Allah tidak mencipta Adam dengan kecondongan kepada dosa ditegaskan lagi dengan Hadis yang mengatakan: ‘Allah menciptakan Adam di dalam imej-Nya sendiri’. [4] Oleh karena imej Allah tidak dinodai dengan dosa, Adam sesungguhnya telah diciptakan tanpa satu kecondongan kepada dosa.

            Kenyataan bahwa maut ialah satu tindakan penghukuman, dan bahwa Allah tidak mencipta manusia untuk mati atau menghabiskan keabadiannya di Neraka, telah diperkuatkan dengan contoh oleh Firman Allah, Isa Al Masih.  Walaupun dia dibunuh – selepas menjalani hidup yang sempurna – maut tidak dapat menampungnya  di dalam kubur.  Dan kini dia berada dalam hadirat Allah di mana dosa tidak hadir dan maut tidak berkuasa.  Oleh karena itu, Allah bukanlah pencipta dosa, karena di mana dosa hadir, maut memerintah.

           

 

Kegentingan Dosa Adam

 

Walaupun Adam hanya melakukan satu dosa, dia telah diusir dari Firdaus.  Dan walaupun dosa yang satunya telah diampuni semasa dia masih berada di Firdaus, namun Allah tetap mengusirnya dari Firdaus. Dosa ini (walaupun telah diampuni) menghalang Adam daripada terus berada di dalam hadirat Allah.  Kita membuat kesimpulan dari sini, bahwa pengampunan saja tidak cukup untuk mengembalikan perhubungan asal Adam dengan Allah. Dari pandangan seorang manusia, dosa Adam bukanlah sesuatu yang berat atau genting – bukan seperti perzinaan atau membunuh – namun jelas sekali bahwa keingkaran Adam mempunyai akibat yang serius dan oleh karena itu tidak boleh diperkecilkan, atau dikatakan sebagai hanya satu kelalaian seperti yang dikatakan oleh setengah orang.

            Jika keingkaran Adam tidak berat, apa reaksi Allah yang kita jangkakan? Allah yang sentiasa adil, membuang Adam dari Firdaus! Dosa yang kelihatan begitu tidak signifikan kepada kita tidak dianggap kecil oleh Allah.  Apa yang telah dilakukan oleh Adam tidak boleh dibalik-buatkan oleh Adam.  Tidak ada jumlah pertobatan atau pengakuan yang bisa menahan Adam di Firdaus Apa yang Adam lakukan adalah begitu drastis, sehingga tidak ada satu peluangpun baginya untuk terus tinggal di Firdaus.

            Kegentingan dosa Adam itu ditunjukkan dengan hukuman yang ia bawa.  Ianya segenting dengan perbedaan antara kehidupan dan maut, antara Firdaus dengan dunia yang dijangkiti dosa., antara kegembiraan dalam hadirat Allah dengan kepedihan akibat dipisahkan daripadanya.

            Al-Qur’an menyatakan dengan jelas bahwa Allah sudah memberi amaran sekeras-kerasnya supaya jangan memakan buah dari pohon terlarang itu.  Jika dia memakannya dan mengingkari Allah, dia adalah seorang yang zalim:

 

Kami berfirman: ‘Hai Adam! Diamlah di Firdaus ini beserta Hawa, dan makanlah makanan-makanannya sepuas hatimu, namun janganlah kalian mendekati pohon ini, nanti kalian terbilang orang-orang yang zalim (Zalemeen)’.[5]

 

Keduanya berkata: ‘Wahai Tuhan kami, kami telah menganiayai diri kami sendiri.  Bila engkau tidak mengampuni dan memberi kami rahmat, pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi.’[6]

 

            Amaran Allah adalah jelas dan diboboti dengan akibat-akibat yang serius.  Kata yang digunakan dalam Al-Qur’an untuk ‘orang-orang zalim’ adalah satu kata yang keras, yang boleh diartikan sebagai: ‘sesiapa yang melanggar hukum Allah, mereka adalah orang-orang yang zalim (Zalemoun)’. [7] Adam telah ‘melanggar hukum Allah.’

            Hukuman untuk orang-orang zalim ialah Api, seperti yang dinyatakan oleh ayat berikut:

 

[Habil berkata] ‘Sesungguhnya aku ingin agar kamu kembali dengan membawa dosaku, bertumpang tindih dengan dosamu sendiri. Maka kamu akan menjadi penghuni neraka dan yang demikian itu adalah pembalasan bagi orang-orang zalim [Zalemeen]’ Maka meluaplah nafsu Qabil untuk membunuh saudaranya. Lalu dibunuhnya. Maka jadilah ia orang yang merugi [Khasereen].[8]

 

            Perhatikan bahwa ayat diatas menerangkan kedua Adam (yang memakan buah dari pohon larangan) dan Qabil (yang membunuh saudaranya) adalah orang-orang yang zalim dan merugi.  Ada orang yang berpendapat bahwa memakan buah dari pohon terlarang itu tidaklah sejahat membunuh saudara sendiri, tapi di depan Allah ianya tidak ada perbedaan.  Kedua Adam dan Qabil telah melanggar hukum Allah. Walaupun perbuatan ingkar mereka berbeda, dosa Adam adalah sama beratnya dengan dosa Qabil karena yang tersinggung adalah Allah yang sama. Ayat berikut menerangkannya sebagai:

 

Barangsiapa yang menjadikan Syetan menjadi pelindungnya selain Allah, maka sesungguhnya dia menderita kerugian [Khusranan] yang nyata.[9]

 

            Ianya bukan berapa banyak kerusakan yang disebabkan oleh keingkaran kita atau berapa banyak perintah yang kita langgar, tapi disebelah manakah kita berada itulah yang menentukan berapa genting dosa kita. Jika kita mengikut Syetan walaupun dalam perkara yang terkecil sekali, kita berada di pihaknya, yang sudah cukup untuk menjadikan kita musuh-musuh Allah.  Seperti yang dinyatakan oleh Razi, ‘untuk mengingkari Allah adalah menyembah Syetan.’ [10]

            Jika kita adalah musuh-musuh Allah, kita adalah orang-orang yang merugi, karena Allah ialah pemenang itu, bukan saja karena Dia adalah agung, tetapi juga karena Dia adalah benar. Adam menerima kata-kata dari Syetan sebagai pengganti kepda firman-firman Allah.  Itu adalah dosa.  Dan itu adalah asal kepada semua dosa.

 

 

Apakah Dosa Adam Hanyalah Satu Kelalaian?

 

Ada yang memandang keingkaran Adam adalah ringan, karena meraka katakan, menurut Al-Qur’an 20:115 ianya hanyalah satu kelalaian:

 

Dan kami membuat satu perjanjian dengan Adam sebelumnya, tapi dia lupa, dan Kami dapati didalmnya tidaka ada ketetapan.

                                                                                   

            Mereka memandang dosa Adam bukan sebagai satu keingkaran yang sebenar.  Bagaimanapun, apa yang mereka tidak memahami sepenuhnya ialah kenyataan bahwa kata ‘lupa’ itu ialah satu ungkapan Al-Qur’an yang menyatakan secara tidak langsung akibat-akibat yang memilukan.  Ini diterangkan dari ayat berikut:

 

Apakah yang lebih durhaka daripada orang yang setelah diberi peringatan dengan keterangan-keterangan Tuhannya, lalu dia tidak suka mengindahkannya, dia lupa akan apa yang sudah dilakukannya?[11]

 

Dan apakah manusia tidak memperhatikan bahwa Kami telah menciptanya dari setetes air mani, tetapi menjadi musuh Kami seterang-terangnya. Dan dia membuat perumpamaan bagi Kami sambil melupakan penciptaannya semula.[12]

 

Dan penghuni neraka berseru kepada penghuni syurga, katanya:’Limpahkanlah kami sedikit air dan makanan yang dikaruniakan Allah kepadamu.... Karena itu pada Hari Kiamat ini, mereka Kami lupakan sebagaimana meraka dahulu pernah melupakan untuk mengunjungi “Hari Mereka” ini,..[13]

 

Orang-orang munafik ... mereka melupakan Allah karena itu Allah melupakan mereka.[14]

 

Namun mereka dan nenek moyang mereka telah Engkau beri kesenangan hidup, sehingga mereka lupa memuja-Mu.  Mereka adalah orang-orang yang binasa. [15]

 

Sesungguhnya orang-orang yang sesat dari jalan Allah itu akan mendapat siksaan yang berat, karena melupakan Hari Perhitungan.[16]

 

Dan janganlah kamu berpolah seperti orang yang melupakan Allah, yang berakibat Allah membuat mereka lupa-diri pula dari mengerjakan kebajikan.  Mereka adalah orang-orang fasik. [17]

 

            Jadi, keingkaran Adam sesungguhnya begitu genting sekali.  Dengan keingkarannya, Adam mengatakan bahwa Allah tidak memberitahunya kebenaran tentang pohon larangan dan Syetan memberitahu kebenaran kepadanya.  Dengan keingkarannya, Adam mengatakan Allah tidak peduli akan kebajikannya tetapi Syetan mempedulikannya.  Denag keingkarannya, Adam mengatakan Allah tidak boleh dipercayaai, sebaliknya Syetan yang boleh dipercayai. (Sekali kali tidak!).  Jika Allah tidak memberitahu kebenaran itu, dan tidak boleh dipercayai, maka Dia bukanlah Tuhan.  Dengan keingkarannya, Adam mengalihkan kepercayaan dan imannya dari Allah kepada Syetan.  Dan seperti yang diulas oleh Razi, ‘untuk mengingkari Allah adalah menyembah Syetan.’[18] Pada pokoknya, Adam menolak Allah dan sebaliknya menerima Syetan sebagai tuhannya, sekurang-kurangnya untuk tempoh keingkarannya itu.  Dan jika Allah bukan Tuhan sepanjang masa, maka Dia bukan Tuhan langsung. Inilah besarnya keingkaran Adam.  Jadi dia bertindak melawan pokok utama iman: laa-illaha-illullah.

 

 

Adam Dijerumuskan  kepada ‘Tempat yang Serendah-rendahnya’

 

Allah menciptakan Adam sempurna tapi karena keingkaran Adam, dia djerumuskan kepada tempat yang serendah-rendahnya.  Mengulas ayat Al-Qur’an, “Sesungguhnya manusia itu telah kami ciptakan dalam bentuk sebaik-baiknya.  Kemudian Kami jerumuskan dia ke tempat yang serendah-rendahnya.”[19], ada yang mengatakan:

 

Dia [Allah] bersumpah bahwa Dia menciptakan manusia pada pertama kalinya dalam pikiran, agama dan pengetahuan yang sempurna sekali, dan kemudian menyatakan bahwa [bila] dia menyimpang dari semua ini, Dia menegembalikannya kepada tempat yang serendah-rendahnya.[20]

 

            Jadi, manusia (Adam) diciptakan dalam pikiran, agama dan pengetahuan yang sempurna – satu kesempurnaan yang dipunyai oleh manusia bila pertama kalinya di dicipta.  “Manusia”, menurut Nasafi, membawa arti ‘umat manusia’.  Mengenai ungkapan ‘tempat yang serendah-rendahnya’, Baidawi dan Nasafi menyatakan bahwa ada yang mempercayai itu merujuk kepada ‘usia tua’, sedangkan yang lainnya percaya ia berarti bahwa manusia dicipta sebagai ‘penghuni api Neraka’.[21] Mungkin usia tua dianggap oleh setengah orang sebagai titik paling rendah dalam kehidupan mereka, tapi ia tak semestinya ‘tempat yang serendah-rendahnya’.  Bagaimanapun, untuk menjadi seorang penghuni Neraka, sememangnya ialah ‘tempat yang serendah-rendahnya’, seperti yang diperkuatkan oleh ayat berikut:

 

Sesungguhnya orang-orang munafik itu, ditempatkan pada tingkatan yang paling bawah di neraka.[22]

 

            Sebelum Adam, Syetan sendiri telah menderita nasib yang sama seperti Adam bila dia disingkirkan dari Firdaus karena mengingkari Allah. Al-Qur’an menggunakan ungkapan yang sama untuk menerangkan pelarian Syetan sama seperti ketika Adam mengingkari Allah:

 

Allah berfirman: ‘Turunlah kamu dari syurga itu.  Tidak sepatutnya kamu menyombong diri di sana, Sebab itu keluarlah! Sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang hina.’[23]

 

            Manusia tidak diciptakan untuk ‘keluar dan turun’ dari Firdaus, karena hanya selepas keingkarannya terhadap Allah barulah dia diperintahkan ‘keluar dan turun’. Semenjak hari itu dia telah diturunkan ke paras ‘yang serendah-rendahnya’ bersama Syetan.

            Kata lawan (antonim) bagi ‘rendah’ dan ‘serendah-rendahnya’ ialah ‘tertinggi’ atau ‘keluhuran’.  Kedua kata-kata ini didapati dari ayat-ayat berikut, dimana ia membawa arti satu peringkat kemenangan dan kebahagiaan di Syurga, yaitu berlawan arti dengan Api:

 

Allah merendahkan kalimat orang-orang kafir dan meninggikan [‘oliah] kalimat-kalimat-Nya.[24]

 

...orang-orang yang air mukanya berseri-seri karena gembira.merasa senang melihat hasilnya.  Tempatnya dalam Surga tingkat tertinggi [‘aa’eiah].[25]

 

          Peringkat berada di ‘tempat serendah-rendahnya’ adalah cocok dengan pernyataan Al-Qur’an dalam penyingkiran Adam dari Firdaus:

 

Allah berfirman: ‘Turunlah kalian dari syurga ini bersama iblis sekalian, sebagain kamu menjadi musuh yang lain...’[26]

 

            Ini menerangkan proses di mana ‘tempat yang serendah-rendahnya’ dibawa.  Perhatikan kata-kata ‘kalian bersama’, yang ditujukan kepada Adam dan Hawa.  Mengenai ungkapan ini, dalam Ikhwan al-Safa ia mengatakan yang ditujukan ialah Adam, Hawa dan keturunan-keturunan mereka. [27]

 

 

Pengaruh Dosa Adam Keatas Keturunannya

 

Dosa Adam tidak hanya mempengaruhinya, karena pengaruhnya kepada keturunan-keturunan Adam juga sama berat kesannya.  Menurut Hadis, dosa Adam telah mempengaruhi seluruh dunia:

 

(Nabi Musa berselisih dan mengambil pengecualian Adam dan berkata,”Ya Adam, engkau adalah bapa kami namun engkau gagalkan kami) – bahwa engkau membuat kami jatuh ke dalam kekecewaan, yakni kehilangan; dan membawa kami keluar dari Firdaus –  yakni, engkaulah yang menyebabkan kami disingkir dari tempat yang penuh kebahagian dan keabadian kepada tempat yang penuh penderitaan dan runtuhan.” [28]

 

            Ketika Adam mematuhi Syetan dan bukannya Allah, dia membuang hubungan dengan Syetan semetara memisahkan dirinya daripada Allah.  Jadi melalui keingkaran Adam seluruh dunia dijangkiti dengan dosa dan maut.

            Keingkaran Adam terutamanya telah mempengaruh keturunan-keturunannya.  Bagaimana kita ketahui semua ini?  Bagaimana kita ketahui bahwa keingkaran Adam mempengaruhi semua keturunannya?

            Pertimbangkan dulu bagaimana kita dicipta. Adakah Allah mengambil segumpal tanah dan membentuk serta meniup kedalamnya dengan Roh-Nya untuk mencipta anda? Adakah Dia mengambil segumpal lagi dan melakukan yang sama untuk mencipta diri saya? Beginilah Dia mencipta Adam, tapi adakah begini caranya Dia mencipta milyaran yang telah memenuhi planet ini?

            Tidak! Allah menciptakan satu, Adam, daripada tanah dan di dalamnya Allah menciptakan yang lainnya.  Allah sesungguhnya bisa mencipta setiap seorang daripada kita semua dari tanah, dengan cara yang sama Dia mencipta Adam.  Tapi dengan kebijaksanaan-Nya Dia tidak memilih untuk berbuat demikian.  Allah hanya mencipta seorang saja dari tanah dan di dalamnya Dia mencipta kita semua.

            Karena kita telah dicipta ‘di dalam’ Adam, keingkaran Adam tidak hanya mempengaruhi dia seorang saja tapi mempengaruhi kita juga.

            Jika kesan daripada keingkaran Adam hanya terbatas kepadanya saja, maka dosanya akan hanya seperti kehilangan satu lengan dalam satu kecelakaan, di mana kesemua anak-anaknya yang lahir berada dalam keadaan yang baik, dengan dua lengan. Dengan arti kata yang lain, kecelakaan itu hanya mempengaruhi seorang saja. Jika sekiranya ini yang berlaku kepada Adma, maka semua keturunannya akan dilahirkan sempurna, bagus dan bebas dari dosa.  Bagaimanapun, adalah jelas sekali kita tidak sempurna, tidak bebas dari dosa dan bukan semestinya orang-orang baik.  Setiap kita telah berdosa dan mengingkari Allah.  Kesemua kita telah melanggar perintah-Nya.

 

            Jadi keingkaran Adam itu lebih merupakan satu penyakit keturunan daripada kehilangan satu lengan.  Jika sesuatu penyakit yang menular didapati di dalam anak-cucu serta kesekua keturunan seseorang, kita dapat menyimpulkan bahwa penyakitnya itu adalah penyakit keturunan yang bukan mempengaruhi dia seorang saja.  Begitulah keingkaran Adam telah mempengaruhi mkita semua. Jika dosa Adam tidak mempengaruhi anak-anaknya maka kita tidak akan menjangka bayi-bayi yang tak berdosa itu meninggal seperti Adam.  Tapi sesungguhnya begitulah halnya.

            Di satu pihak yang lain jika seseorang itu akan dilahirkan bebas dari semua dosa dan akan menjalani satu hidup yang sempurna, maka kita akan menjangkakan bahwa dia tidak akan mati dan ‘kembali kepada tanah’ tapi sebaliknya menikmati hadirat Allah seperti yang Adam alami sebelum kejatuhannya.  Isa, Firman Allah itulah orangnya.  Sifat kemanusiaannya bukan satu hasil daripada perantaraan Adam, karena dia lahirkan oleh seorang perawan dan oleh karena itu dia tidak mewarisi sifat-sifat Adam.  Ini sekali lagi membuktikan semua keturunan Adam dipemngaruhi oleh dosanya, karena oleh sebab Isa tidak datang melalui perantaraan Adam, dia tidak mewarisi apa-apapun sifat ketidak-sempurnaan Adam.  Tetapi semua yang datang melaui Adam ada mewarisi sifat-siafat kejatuhan Adam.

 

 

Mana Jalan Keluar? 

 

Maka umat manusia berada dalam satu kedudukan yang genting. Adam dicipta dalam imej Allah, dan semua yang Allah ciptakan adalah bagus.  Tetapi semenjak kemasukan dosa, manusia telah menukarkan imej Allah kepada yang kepunyaan Syetan – pendusta, pembunuh, dan perusak ciptaan-ciptaan Allah.  Untuk inilah, manusia ditakdirkan untuk bersama dengan para iblis di tempat ‘ yang serendah-rendahnya’ – yaitu di dalam Neraka.

 

 

Daya-usaha Adam Tidak Mencukupi

 

Sejurus selepas Adam mengingkari Allah dia mendapati dirinya dalam keadaan telanjang.  Segera dia coba menutupi dirinya dengan daun kayu. Tapi ini tidak menyelesaikan apa-apa karena keterlanjangannya hanyalah satu manifestasi luaran msalahnya  – seperti kesakitan yang mengiringi satu penyakit berat.  Adam telah jatuh dari mata Allah.  Ketika dia masih berada dalam kebebenaran, dia diterima walaupun bogel; tapi bila dia ingkar, dia ditolak walaupun ditutupi.

            Adam dan Hawa telanjang sebelum mereka mengingkari Allah, tapi tidak menyadari keterlanjangan mereka.  Sama seperti seorang yang tidak malu dengan tubuhnya yang bogel bila bersendirian, begiyu jua dengan Adam dan Hawa yang tidak malu dengan kebogelan mereka di depan Allah. Begitulah kuatnya perhubungan yang Adam nikmati bersama Allah.  Jubahnya dalah kebenaran.

            Tapi selepas mengingkari Allah, Adam dan istrinya diputuskan dari Allah.  Bila dia mendapati dirinya telanjang, Adam merasa malu terhadap Yang memghiasi setiap bagian dirinya. Dan Allah Pencipta bagi Adam menjadi seperti seorang asing.

            Kini daripada Allah sebagai Raja dan Pusat kehidupan mereka, diri yang bertakhta. Daripada sadar akan Allah, Adam menjadi sadar akan dirinya.  Dan rasa malu menyusul.  Walaupun pada tingkat yang terbaik, diri dalam hadirat Allah hanya bisa menghasilkan malu.  Bila Adam mengingkari, rasa keterlanjangan itu adalah serta-merta, dan ia tinggal kekal bersamanya sebagai satu peringatan yang berterusan bahwa dia telah jatuh dari mata Allah.  Ianya masih menjadi peringatan berterusan bagi kita semua.  Rasa keterlanjangan itu ialah satu penghukuman.

            Ketidak-hadiran rasa malu yang asal adalah karena tindakan ciptaan Allah yang ulung.  Maka untuk Adam mengembalikan kemurnian pertamanya, tidak kurang daripada satu lagi tindakan penciptaan diperlukan.  Tapi ianya adalah jelas bahwa Adam tidak dapat mencapai semua ini dengan pekerjaan tangannya sendiri, karena dia telah dihalau dari Firdaus walaupun dengan pekerjaan tangannya sendiri untuk menutupinya.   Ketetapan hatinya untuk menghilangkan rasa malu dengan menjahit beberapa helai dedaun langsung tidak berguna.

            Jika dedaun Firdaus sendiri tidak dapat menutup keterlanjangannya agar dia diterima oleh Allah, tidak ada jumlah kerja-kerja yang baik yang dapat melakukan ini.  Mengapakah apa saja kerja-kerja yang baik diiringi dengan dedaun Firdaus tidak bisa lakukannya? Dan jika dedaun Firdaus tidak dapat menutupinya dan menahannya daripada  dihalau keluar dari Firdaus, apa agaknya yang akan menutupi anda dan saya?  Bagaimana kita bisa ditutupi didepan Allah yang Maha Kuasa?

            Sama seperti Adam yang pertama, umat manusia masih lagi bersembunyi daripada Allah. Di mata Allah,  tidak ada apa-apa yang kita bisa lakukan untuk menutup diri kita agar diterima oleh Allah. Walaupun dengan kerja-kerja baik yang tertinggi serta berterusan tidak cukup untuk menutupi kita.

 

 

Pengampunan Saja Tidak Cukup

 

Adakah Allah mengampuni Adam setelah dia disingkirkan dari Firdaus, atau ketika dia masih berada di Taman Eden? Adam masih lagi berada di Firdaus ketika dia diampuni, meskipun begitu dia terpaksa juga disingkir daripada Hadirat Allah.  Pengampuan saja tidak cukup untuk mengembalikan perhubungan yang asal Adam dengan Allah sebelum keingkarannya.  Apa yang kita pelajari dari sini ialah ianya mengambil lebih daripada pengampunan untuk seseorang agar dia bisa kembali ke hadirat Allah.

            Ada orang yang mengatakan bahwa Adam sebenarnya kembali ke Firdaus selepas kematiannya karena dia bertobat dan pengampunan Allah saja sudah mencukupi untuk dia dikembalikan ke dalam hadirat Allah.  Bagaimanapun, jika pertobatan dan pengampunan saja sudah mencukupi untuk memulihkan perhubungan sempurna dengan Allah, mengapa tidak Allah mengembalikan Adam ke Firdaus sebaik saja dia bertobat? Ini menunjukkan bahwa lebih daripada pengampunan yang diperlukan sebelum kita bisa dipulihkan kepada hadirat Allah.

 

            Selepas keingkaran Adam, kita perhatikan empat fakta-fakta yang tidak dapat diperdebatkan:

1.         Adam dan keturunannya mati dan kembali kepada tanah.

2.         Keturunan Adam, sama seperti bapa mereka, mengingkari Allah.

3.         Daya usaha Adam dan dedaun Firdaus tidak dapat menutupi Adam hingga ke tahap yang dapat diterima semula oleh Allah.

4.         Walaupun Adam diampuni, dia tetap disingkirkan dari Firdaus Allah dan tidak dibenarkan masuk kembali.

 

            Keempat-empat perkara mengenai kehidupan manusia ini mengikut keingkaran Adam menunjuk kepada satu kesimpulan yang menggelisahkan: Kita tahu Allah mengampuni Adam, namu dia tetap disingkir dari Firdaus.  Ini bermakna pengampunan tidak mencukupi untuk memulihkan dia kepada Firdaus dan Kehidupan Kekal.  Dia telah diasingkan dari Firdaus Allah.  Dan apa yang benar bagi Adam adalah juga benar bagi setiap orang yang mengingkari Allah.  Ini termasuklah kita semua, keturunan Adam itu. 

            Dalam bab yang berikutnya kita akan melihat bagaimana Allah mendapat kemenangan keatas tantangan Syetan.

 


PENCIPTAAN SEMULA MANUSIA

 

Kita telah lihat di atas bahwa bukan usaha Adam, atau pertobatannya, atau pengampunan Allah cukup untuk mengembalikan Adam kepada Firdaus.  Ada sesuatu yang lain diperlukan. ‘Sesuatu’ itu didapati dalam Adam Baru, Isa, Firman Allah itu. Walaupun dia memulakan misinya di mana Adam tamat dengan tragis sekali (yaitu di atas bumi), dia tamat lebih tinggi daripada di mana Adam bermula, mengakukan Allah bahkan di dalam Neraka. Maka dari itu, sebaik saja Isa Firman Allah menghabiskan misinya dia diangkat secara fisik untuk berada di sisi Allah.  Melalui ini, Allah mengumumkan bahwa dalam dia ialah satu-satunya jalan untuk kembali ke Hadirat Allah.

            Allah tidak berhenti dengan yang kedua terbaik.  Allah tidak menerima satu kesetiaan yang berbagi dari umat manusia.  Allah tidak meninggalkan rencana asal kesempurnaan-Nya ketika Dia mencipta Adam.  Umat manusia harus berserah sama sekali kepada-Nya.  Allah tidak akan menerima pelacuran spirituil dari ciptaan-Nya, walaupun untuk semenit.  Allah sajalah yang mesti menjadi obyek penyembahan.  Allah tidak akan puas dengan satu makhluk ciptaan-Nya yang mengikuti-Nya kekadang, dan pada yang lainnya menuruti Syetan.

            Allah tidak akan memberi laluan kepada tantangan Syetan bila si Iblis coba memperkecilkan-Nya dengan menjerat manusia untuk mengingkari-Nya.

            Jika Allah telah memusnahkan Adam dan bermula sekali lagi dengan mencipta seorang manusia lain dengan tanah, ini akan merupakan seolah-olah satu kebenaran kekalahan – dan Syetan akan hanya perlu melakukan perkara yang sama untuk sekali lagi merusak pekerjaan Allah.

            Oleh karena itu, Allah tidak memusnahkan Manusia pertama itu; Dia menyediakan satu Manusia baru dan di dalamnya Allah menyelamatkan umat manusia dari kesulitan dan bahaya.

 

 

Rencana Penyelamatan

 

Allah mencipta umat manusia melalui satu manusia, Adam.  Seperti yang telah kita bincang di Bab Pertama diatas Allah tidak mengambil tanah dan membentuk serta menghembus nafas-Nya dengan Roh-Nya untuk mencipta anda dan saya, dan mengulangi proses itu untuk mencipta seluruh umat manusia di dunia.  Allah janya melakukan sekali yaitu bila Dia mencipta Adam.

            Jadi Allah mencipta satu manusia, Adam, daripada tanah, dan di dalammya Allah mencipta yang lain.  Allah bisa saja mencipta setiap kita dari tanah, dengan cara yang sama Dia mencipta Adam.  Tapi dalam kebijaksanaan-Nya Dia memilih untuk tidak berbuat demikian.  Allah mencipta satu manusia dari tanah dan di dalamnya Dia mencipta kita semua.

            Kita juga tahau bahwa Adam mengingkari Allah, dan disingkirkan dari Firdaus dan kemudian mati, dan di dalamnya seluruh umat dianggap sebagai orang-orang berdosa, juga disingkir dari Firdaus dan sepertinya, semuanya mati.

            Untuk Allah menuntut semula dan menyelamatkan umat manusia, Dia memperkenalkan seorang Adam baru, dan di dalamnya Dia mencipta semula manusia.. Sama seperti Dia mencipta manusia dalam satu orang, Adam; Dia juga mencipta semula manusia dalan satu orang, Isa, Firman-Nya.

            Melalui Adam Kedua inilah Allah mencapai penciptaan semula yang diperlukan untuk umat manusia dipulih-kembalikan kepada imej Allah yang dulunya dimiliki oleh mereka, agar mereka bisa berdiri di depan Hadirat-Nya sekali lagi. Tapi Adam Baru ini mestilah sempurna dalam segalanya.  Jika tidak, keturunannya akan tetap sama mempunyai dosa dan diasingkan dari Hadirat Allah sama seperti keturunan Adam yang pertama.

            Adam yang lama ialah tanah sebelumnya dengan satu nafas Allah ditambah kepadanya kemudian.  Adam yang baru ialah satu Roh dari Allah.  Firman Allah ialah satu Roh sebelumnya dengan daging manusia ditambah kemudian.

            Isa, seperti yang telah kita lihat, adalah Manusia Sempurna.  Sebagai Kalimatullah (Firman Allah) yang Kekal yang dilahirkan oleh seorang perawan dia telah menjalani hidupnya di dunia ini dengan penyerahan kepada Allah yang mutlak. Jika dia telah gagal dalam satu perkara, rencana penciptaan semula Allah akan tergendala.  Tapi Alhamdulillah, dia tidak gagal!  Dia seorang saja yang telah menyenangkan Allah selalu.

            Bagaimanapun, kesempurnaannya harus diuji hingga ke tetesan terakhir.  Mungkin di bawah penekanan satu kecacatan bisa ditemui.  Banyak orang yang bermula dengan baik tapi bila penekanan dikenakan, serabut sebenar mereka akan diketahui dengan cepat.  Kekuatan satu besi keluli bukan diukur dengan kilogram yang pertama dikenakan keatasnya, tetapi yang terakhir.  Bukan jam yang pertama dalam sehari yang menentukan penerimaan oleh Allah tetapi yang terakhir.  Jadi Isa terpaksa diuji hingga ke hembusan nafas yang terakhir, denyutan jantungnya yang terakhir.  Maka Isa melalui setiap pencobaan hinggalah dan termasuk ujian terakhir: kematian di atas kayu salib dan perpisahan dengan Allah. Ujian asid bagi mana-mana manusia diuji dalam bagian hidupnya yang paling disayanginya.  Di atas kayu salib Isa diuji bagian yang paling disayangi olehnya, yaitu perhubungan istimewanya dengan Allah.

            Seperti yang telah kita rela mengakui, ujian terakhir yang terpaksa dilalui oleh  Nabi Ayub bukanlah kehilangan harta-benda atau anak-anaknya, tetapi badannya sendiri:

 

Akhirnya Syetan kembali dan berkata, “Kepada Ayub kehilangan harta dan anak-anaknya itu perkara yang kecil, tapi kalau Engkau memberi aku kuasa keatas tubuhnya, aku bisa menjamin bahwa jika dia sendiri menderita dalam tubuhnya dia akan mengutuk Engkau,” Maka Allah mengabulkan permintaannya, Syetan merundung tubuh Ayub.  Isi badannya dan kulit Ayub mula jatuh, dan walaupun dia mengeluh kepada Allah namun dia tetap tidak menyeranah Allah.[29]

 

            Ujian terakhir Ayub bukanlah harta kepunyaannya, ataupun anak-anaknya, tetapi sesuatu yang dekat kepada jiwanya – yang akan mempengaruhinya secara terus.  Ujian asid kesetiaannya kepada Allah ialah sesuatu yang bena-benar pribadi.  Sesungguhnya, kerusakan yang menyentuh kita secara peribadi itulah yang akan menyatakan sifat dalaman kita.

            Dan kini Syetan datang untuk merundung setiap orang di dalam bagian yang paling terutama untuk mencapai tujuannya.  Syetan menyerang di bagian yang mendatangkan kerusakan paling besar.  Dia datang untuk merampas dari orang itu apa-apa saja yang mewakili batu dasar, atau aspek yang paling penting dalam pribadi seseorang.

            Bila Syetan datang untuk merundung Isa, bagian manakah yang akan diserangnya? Bagian manakah yang mewakili aspek yang paling penting dalam pribadi Isa? Bagian mana, yang bila diserang, akan memberi kerusakan yang terbesar?  Kepada Ayub bagian itu ialah tubuhnya sendiri, tapi kepada Isa ianya ialah kesatuannya dengan Allah.  Karena inilah yang membedakan Isa dari orang lain.  Kesatuan itu adalah kebahagiaannya, kekayaannya, dan harta-miliknya.  Ia adalah kekuatan bagi kodratnya.  Ke atas bagian inilah kalau serangan ditumpukan – akan menjadi ujian terakhir baginya.  Mereka yang datang dari tanah diuji keatas tubuh mereka, tapi dia yang datang dari Allah akan diuji kesatuannya dengan Allah.

            Untuk menyerang kesatuan Isa dengan Allah ialah untuk menyentuh dirinya sendiri, sama seperti Ayub diserang ke atas tubuhnya.  Ini merupakan serang yang paling pribadi, langsung dan paling merusakkan bagi Isa.

            Peninggalan oleh Allah yang dialami oleh Isa merupakan bentuk penderitaan terakhir.  Ini menjelaskan pergumulan di Taman Gethsemane.  Ianya bukan karena ketakutan akan maut tapi karena ianya merupakan satu pergumulan oleh seseorang yang menikmati kesatuan dengan Allah secara kekal, namun akan tiba saatnya untuk dia mengalami peninggalan oleh Allah.

            Isa ketika di atas kayu salib mengalami bahang panas gurun spirituil, ketidak-hadiran yang Ilahi, yakni neraka.  Inilah cangkir yang terpahit sekali.

            Namun disinilah kita mendengar kata-kata “Ya Allah, ya Tuhanku’. Isa walaupun ditinggalkan oleh Allah, dan dirundung penderitaan terakhir, mengambil pengakuan Allah Tuhannya, kepada ketandusan spirituil ini, yaitu neraka.  Bila Adam menyerahkan kehendaknya kepada musuh Allah, dia menyatakan secara tidak langsung bahwa Syetan adalah benar dan Allah adalan salah (Sekali-kali tidak!), dan secara tidak langsung dia menyangkal bahwa Allah itu Tuhan – sekurang-kurannya untuk tempoh ketidak-taatannya.  Tapi kalau Allah bukan Tuhan untuk sepanjang masa, Dia tidak boleh menjadi Tuhan langsung. Jadi semasa Adam menyangkal Allah di Firdaus, Isa mengangkat kendatipun ditinggalkan oleh Allah.  Pengakuan akan Allah kendatipun dalam Neraka, sehinggalah ke hembusan nafasnya yang terakhir di atas kayu salib, ialah kemenangan dan segel kesempurnaan yang terakhir. Di sanalah melalui ujian tajam itu Adam baru dijadikan sempurna.

            Di sanalah dan di dalam Isa, sebagai Adam baru, Allah menyempurnakan ciptaan baru-Nya, dan Allah dimuliakan sebagai Tuhan untuk selama-lamanya.

            Di sanalah Isa menyapu bersih semua catatan lama. Jadi Isa adalah sempurna bermula dari kelahirannya sampailah kepada kewafatannya. Dan melalui kesempurnaannya itulah Allah mencapai satu pembalikan apa yang Adam telah lakukan.  Dalam cara inilah perbuatan atau tindakan penciptaan semula itu dicapai.

 

Adam yang pertama mengingkari Allah; Adam kedua, Isa, Firman Allah menaati Allah hingga kepada hembusan terakhirnya.

 

Adam yang pertama kembali kepada tanah; Adam kedua, Isa, Firman Allah tidak ada kecacatan tapi bangkit dari mati di alam tubuh dan roh, dan tidak akan mati lagi.

 

Adam yang pertama diusir dari Firdaus; Adam kedua, Isa, Firman Allah, kembali kepada Allah untuk berada di sisi-Nya.

 

Apa saja yang berlaku kepada Adam yang pertama, terjadi kepada keturunannya; Begitu juga apa saja yang berlaku kepada Adam kedua, akan berlaku kepada keturunannya.

 

Keturunan Adam yang pertama berkongsi sifatnya, akan juga berkongsi dosa dan akibatnya; Begitu juga dengan keturunan Adam kedua berkongsi kebenaran dan akibatnya: yaitu ciptaan baru Allah.

 

 

Kecakapan-kecakapan Adam

 

Ada yang mungkin bertanya apa yang melayakkan Isa sebagai Adam yang baru, atau apa syarat yang dia penuhi untuk berdiri sebagai Adam?  Dan sebagai jawabnya, kita mungkin bertanya “Apa yang membuat Adam, Adam”?

            Apa yang membuat Adam, Adam ialah dia adalah yang pertama dari jenisnya.  Begitu juga Isa sebagai manusia ialah yang pertama dari jenisnya.  Baidawi mengulas tentang Isa:

 

Ia seperti Adam tanpa ayah, jadi ia seperti suatu keanehan yang secara tanpa diketahui awal dalam penciptaannya secara asli (Al-bid’iyat) yang merupakan kepatuhan dunia terhadap Tuhan atau urusan Tuhan, atau saja ia seperti Kitab Allah.[30]

 

            Pemilihan Isa dalam perbandingan dengan Adam diperkuatkan lagi oleh Ibn ‘Arabi yang menbandingkan Adam dan Isa dalam penyataan berikut:[31]

 

Segel kesalehan adalah Isa dalam pengertian yang mutlak.  Dialah orang suci kenabian yang mutlak di masa kini  bagi bangsa ini... Dia akan datang di akhir zaman sebagai waris kepada segel itu, tidak ada orang saleh dan suci selepasnya...Dia adalah Isa.<