SIFAT-SIFAT DASAR AL-MASIH 'ISA : PENGESAHAN MENURUT BUKTI-BUKTI (I)

Bentuk Insani Isa Al Masih        

Dia Disujud oleh Yahya    

Kehidupan dan Penciptaaan -- Sifat Milik Pribadi-Nya

Musa Didorong, Sedangkan Isa Tidak

Isa Menghembuskan Kehidupan; Musa Tidak

Musa Harus Dipersiapkan; Isa Sudah Siap

Musa Rasa Asing dengan Kuasa Allah; Isa Sudah Biasa

Makna ‘Dengan Izin Allah’

Keunikan Penguatan Tersebut    

Dia Berserta Allah 

Dari Tanah ke Tanah atau Dari Allah ke Allah

Dia Tidak Berdosa  

Ketiada-dosaan Isa Ditunjukkan oleh Penentangan Orang-orang Munafik.

Ketiada-dosaan Isa Ditunjukkan dengan Dia Diangkat  ke Sisi Allah

Kesimpulan 

 

SIFAT-SIFAT DASAR AL-MASIH 'ISA : PENGESAHAN MENURUT BUKTI-BUKTI (II)

Firman Kehidupan Kekal Ada Bersamanya        

Kuasanya untuk Menghapus dan Mengampuni Dosa-dosa 

Dia Adalah Pengetahuan Tentang Hari Kiamat

Ciri-ciri Penghakiman Isa 

Dia yang Memusnahkan Si Dajjal        

Gambaran-gambaran Isa   

Al-Qur’an, atau Kitab Allah

Nama Keagungan Allah

Wajah Kehidupan Yang Akan Datang

Kesimpulan 

SIFAT-SIFAT DASAR AL-MASIH 'ISA : PENGESAHAN BUKTI-BUKTI (I)  

Dalam penyelidikan ilmiah, jika seorang ilmuwan menggunakan dua metode/kaedah yang berlainan tetapi mendapat hasil penemuan yang sama, ini akan memberinya satu ukuran kepastian bahwa penemuannya adalah benar dan sahih.  Dan jika ia menggunakan tiga metode/kaedah yang berlainan pula dan ketiganya memberi keputusan yang sama, maka keyakinannya akan diperkokohkan dan tidak mungkin akan dimungkiri lagi.

         Masih ada lagi bukti-bukti lain tentang Isa Al Masih adalah Firman Allah yang Kekal walaupun dalam hal ini sudah banyak pengamatan dan penemuan yang kita kumpulkan.  Masih banyak lagi buktinya.  Dalam Bab ini dan Bab seterusnya, kita akan memeriksa semua penemuan kita dalam pelbagai cara untuk melihat apakah iman kita itu benar dan sahih.

         Mari kita mulai lagi dari permulaan.

 

Bentuk Insani Isa Al Masih  

Dalam cara bagaimanakah Firman Allah yang Kekal itu akan mengambil bentuk seorang manusia?  Apakah Allah akan membentuknya sama seperti Dia membentuk Adam, dari tanah?  Atau apakah Dia akan membiarkan dia datang melalui persetubuhan antara seorang laki-laki dan seorang wanita?

         Kedua-duanya tidak!  Karena jika Allah mengikuti cara-cara sedemikian, kita akan mendapat satu kesan bahwa Firman itu adalah satu makhluk sama seperti Adam dan keturunannya. Tidak! Kedatangannya bukanlah seperti Adam ataupun kita semua.  Kedatangannya ke dunia ini tidak termasuk dalam apa-apa orde ciptaan sekalipun.  Sesungguhnya, dia merupakan satu perwujudan, dan bukannya satu penciptaan.  Bila Isa datang ke dunia ini, dia adalah satu-satunya pengecualian atas orde ciptaan.

         Jika Isa termasuk dalam orde ciptaan, dan Allah menghendaki kita semua mengetahui bahwa dia hanyalah satu makhluk biasa saja, Allah mungkin saja akan membentuknya sama seperti Adam, atau biarkan dia dilahirkan sama seperti nabi-nabi yang lain.  Tidak ada kerendahan martabat mengenai kedatangan manusia dari penyatuan seorang laki-laki dan seorang wanita; semua manusia-manusia agung telah dilahirkan dengan  cara sedemikian.  Hanya Isa saja yang berlainan.

         Jadi pembentukan Isa tidak sama seperti pembentukan kita dan tidak juga seperti Adam.

         Menurut Al-Qur’an, bagian Roh bagi Adam ialah  yang ‘ditiupkan roh ciptaan-Ku ke dalamnya...’ [117]

         Adam tidak diberikan Roh itu tetapi ditiupkan ke dalamnya dari Roh itu untuk memberikan kehidupan kepadanya.  Sebaliknya, kita tidak pernah diberitahu bahwa  Isa ditiupkan ke dalamnya dari Roh itu, atau bahwa Roh itu diberi kepada Isa.  Tapi kita diberitahu bahwa Isa adalah suatu Roh yang datang dari Allah. Ke dalam Maryamlah yang dihembuskan, [118] untuk menyediakan bentuk manusia kepada Firman Allah itu.

         Lantas Isa adalah suatu Roh dari Allah yang diambil-bentuk dalam satu bentuk manusia. Qashani menyatakan, ‘Dia adalah satu roh dalam satu bentuk manusia spirituil yang sempurna’. [119]   Adalah tidak mengherankan ditemukan dalam Al-Qur’an bahwa Isa mempunyai kuasa hembusan yang memberi kehidupan [120] dalam mencipta burung itu.

         Ibn ‘Arabi perhatikan bahwa kedatangan Isa ke dunia ini tidak mengikut pola penciptaan manusia.  Dia berkata:

 

Bila Allah membentuk badan manusia, Dia berkata: ‘Bila Aku membentuknya, Aku meniup ke dalamnya’...tapi [tubuh] Isa tidak seperti itu, karena pembentukan tubuhnya dan bentuk insaninya adalah melalui penghembusan spirituil, sedangkan semua manusia yang lainnya tidak seperti itu. [121]

 

         Qashani menjelaskan kenyataan di atas dengan kata-kata berikut:

 

Allah membentuk tubuh setiap manusia, kemudian ditiup-Nya ke dalamnya setelah pembentukan tubuh badan tersebut...tetapi Isa tidak diperbuatkannya sedemikian, karena Dia [Allah] meniupkan ke dalam ibunya zat-zat tubuh badannya...maka kerohanian menjadi sebagian dari tubuhnya. [122]

 

         Jadi menurut Ibn ‘Arabi dan Qashani, setiap manusia dicipta pertamanya pembentukan tubuh mereka, kemudian diikuti dengan peniupan Roh.  Tetapi dalam kasus Isa, zat-zat tubuhnya terbentuk sebagai satu akibat dari peniupan Roh.  Setelah pembentukan tubuh itu, tidak ada lagi peniupan dari Roh ke dalam tubuh Isa. Aktivitas Roh itu dibatasi sampai pada penyediaan satu tubuh untuk Firman Allah, yang sudah hadir sebelumnya.

         Jadi, kedatangan Isa ke dalam dunia bukanlah satu penciptaan tetapi satu perwujudan, melalui tubuh yang telah disediakan oleh Roh.  Semua ini adalah sejajar dengan apa yang kita tegakkan sejak awal lagi: yaitu Isa adalah Firman Allah yang Kekal dan Tidak Dicipta.

 

Dia Disujud oleh Yahya

 

Seperti yang telah kita lihat di Bagian 2, Bab 2; walaupun Yahya adalah seorang nabi yang besar, [123] disebut dalam Al-Qur’an sebagai seorang sayed [124] (yang bermaksud ‘pemimpin orang-orang beriman’ [125] dan ‘seorang yang patut dicontohi dalam agama’ [126] ), namun dia bersujud di dalam rahim ibunya kepada Isa.  Kita diberitahu oleh Ibn ‘Abbas ‘penyujudan Yahya dalam rahim ibunya ialah ‘iman kepercayaannya’ bahwa Isa adalah Firman Allah itu’ [127]

         Jadi nabi besar Yahya, ketika bertemu dengan Isa di dalam kandungan, percaya bahwa Isa adalah Firman Allah, dan penyujudannya kepada Isa adalah suatu respon yang sewajarnya dan sebagai satu ungkapan imannya.

         Dan kita tahu bahwa sujud adalah satu bentuk penyembahan, dan penyembahan seperti itu hanya layak bagi Allah saja.  Apakah penyujudan Yahya terhadap Isa sebagai Firman Allah itu merupakan satu indikasi yang jelas bahwa Isa itulah Firman Allah yang Kekal, Tidak Tercipta dan Ilahi?  Karena jika Yahya bersujud kepada sesuatu yang tercipta, bukankah itu dianggap sebagai syirik, yaitu dosa yang menyamakan sesuatu yang lain sama dengan Allah?

         Coba renungkan lebih jauh lagi: ketika Yahya sujud  dia adalah enam bulan dalam rahim ibunya.  Adakah dia melihat Isa dalam kandungan Maryam agar dia merasa kagum dengan kualitas apa saja yang ada pada Isa? Tidak, sesungguhnya dia tidak!  Isa tidak bisa kelihatan langsung karena dia berada baru beberapa hari saja dalam kandungan Maryam.  Jadi, ketika Yahya bersujud dia sebenarnya sujud kepada Firman Allah merupakan sifat dasar ilahi Isa.

         Di samping itu, adakah Yahya sujud sebagai satu perbuatan kemauan dirinya sendiri atau sebagai satu pekerjaan inspirasi?  Apakah Yahya sadar dan bisa mengawal penyujudan itu, atau ia didesak dan didorong oleh suatu kuasa spirituil?  Sudah tentu karena dorongan kuasa spirituil! Allah-lah yang menggerakkan janin enam bulan Yahya untuk sujud kepada Isa.  Dan jika Allah menghendaki Yahya sujud kepada Isa, bukankah itu satu pengesahan syurgawi bahwa Isa sesungguhnya adalah Firman Ilahi Allah Yang Hidup itu?

         Bukan itu saja, Razi memberi satu sebab mengapa Nabi Yahya diberikan namanya sedemikian:

 

Yahya adalah yang pertama percaya dalam Isa, maka hatinya menjadi hidup dengan iman [dalam Isa] itu. [128]

 

         Jika iman terhadap Isa tidak lebih dari satu iman terhadap seorang nabi, mengapa nabi besar seperti Yahya dihidupkan hatinya dengan iman tersebut?

         Dan bagaimana Yahya menunjukkan iman itu?  Dengan sujud sembah.  Hanya Allah dan Firman-Nya yang membawa kehidupan kepada hati-hati yang mati, bahkan juga hati nabi-nabi besar.  Kita kini bisa mengerti mengapa dan apa yang ditulis oleh para nabi tentang Isa.  Yaitu untuk mempercayainya sebagai Firman Allah yang kekal yang memberi kehidupan baru.

         Yahya tidak membaca tulisan-tulisan apa lagi mendengar kata-kata yang membuatnya sujud kepada Isa, dan menyebabkan hatinya berdebar-debar dengan kehidupan yang dibawa oleh iman itu.  Sebaliknya dia bertemu dengan Firman Allah itu secara pribadi, walaupun ketika itu dia masih berada dalam rahim Maryam.

         Jika seorang nabi besar sujud kepada Isa Firman Allah, maka semua manusia juga harus berbuat demikian.

         Jika seorang nabi besar butuhkan kehidupan, dan ia telah diberikan kepadanya dengan menaruh iman dalam Isa Firman Allah, apa lagi bagi manusia biasa yang memang membutuhkan kehidupan tersebut.

         Jika ada orang menyembah dan sujud kepada Isa sebagai Firman Allah yang Ilahi, mereka bukan saja mengikuti jejak dan tradisi nabi besar dan sayed Yahya, tetapi juga satu contoh yang digerak dan didorong oleh Allah Sendiri untuk menghormati Firman-Nya, Isa Al Masih.

 

 

Kehidupan dan Penciptaaan -- Sifat Milik Pribadi-Nya

 

Menurut Al-Qur’an, membangkitkan orang mati dan penciptaaan adalah dua daripada sifat milik Ilahi Allah.  Tidak ada seorangpun yang bersekutu dalam kekuasaan ini dengan Allah, [129] sampai ke tahap yang terkecil sekalipun.  Namun Allah dengan sengaja memberi sifat milik Ilahi ini kepada Isa. [130]

         Justru Al-Qur’an membuatnya begitu jelas bahwa Isa mempunyai kuasa untuk mencipta sesuatu dari tanah liat, di mana ada yang menyamakannya dengan kasus penukaran tongkat Musa menjadi ular.  Walau bagaimanapun, jika kita membaca dengan teliti dari ayat-ayat tersebut dalam Al-Qur’an, akan membuktikan kepada kita bukan begitu halnya.  

 

Musa Didorong, Sedangkan Isa Tidak

 

Dalam Al-Qur’an, Allah bertanya kepada Musa:

 

Apakah yang ada di tangan kananmu, hai Musa?

Musa menjawab: ‘inilah tongkatku...’

Allah berfirman: ‘Lemparkanlah tongkatmu, hai Musa!’  Segera Musapun melemparkan tongkatnya, serta merta tongkat itu menjelma menjadi seekor ular yang merayap dengan lincah. [131]

 

         Tatkala dilihatnya tongkat itu bergerak-gerak bagaikan seekor ular, Musa berlari ke belakang, namun langkahnya tertahan.  Allah berfirman; ‘Hai Musa! Jangan takut!’. [132]

         Dalam peristiwa di atas, Allah melakukan mujizat itu untuk meyakinkan kepada Musa akan kekuasaan-Nya.  Bila Musa melemparkan tongkatnya dia tidak menjangka tongkat itu akan berubah menjadi seekor ular. Dan dia lari ketakutan bila ia berlaku sedemikian rupa.  Jelas sekali Allah dan bukannya Musa yang memulai inisiatip perubahan itu.

         Mujizat yang serupa juga dilakukan di depan Firaun ketika Allah ‘wahyukan kepada Musa: ‘Sekarang bekerjalah dengan tongkatmu!’ Sekonyong-konyong ular Musa menelan semua ular mereka.’ [133]

         Dalam peristiwa ini Musa melakukan tidak lebih dari apa yang dilakukannya di peristiwa sebelumnya, karena Allah-lah yang menyuruh dia melemparkan tongkatnya, dan dia hanya menuruti saja.  Inisiatip adalah dari Allah, bukannya dari Musa.  Sesungguhnya begitulah sifat-sifat bagaimana Allah melakukan mujizat melalui Musa, seperti yang bisa dilihat dari peristiwa-peristiwa yang lainnya.  Contohnya, ketika Bani Israil merasa dahaga, Allah-lah yang menyuruh Musa untuk memukul batu tersebut, [134] dan ketika mereka keluar dari tanah Mesir sebelum melintasi laut, Allah jugalah yang menyuruh Musa untuk memukul laut itu dengan tongkatnya ‘...maka terbelahlah laut itu, sedangkan masing-masing belahannya seperti gunung yang besar.’ [135] Dalam setiap peristiwa tersebut, Allah-lah yang berinisiatip.  Musa bukanlah orang yang menguasai waktu dan keadaan di mana dan bagaimana mujizat itu harus berlaku.

         Bagaimanapun, ketika Isa melakukan pekerjaan penciptaan,  Allah membenarkan dia dengan inisiatipnya sendiri untuk melakukan mujizat dan memberi nyawa kehidupan.  Ayat-ayat Al-Qur’an menceritakan aktivitas Isa dalam istilah berikut:

 

Aku ini datang kepadamu membawa tanda mujizat dari Tuhanmu yaitu aku dapat membuat dari tanah liat ini rangka burung untuk kalian, kemudian aku tiup lalu menjadi seekor burung dengan izin Allah.  Dan aku sanggup menyembuhkan orang buta, penyakit sopak [kusta] dan menghidupkan orang mati dengan izin Allah. [136]

 

         Isa tidak diberitahu oleh Allah untuk membangkitkan orang mati atau menyembuhkan orang buta seperti yang disuruh kepada Musa.  Sebaliknya, Allah membedakan Isa dengan memberinya inisiatip tersebut.  Musa tidak meniupkan kepada tongkat itu untuk menukarnya menjadi seekor ular, sedangkan Isa pula meniupkan ke dalam tanah liat itu untuk menjadikannya suatu benda bernyawa. Ibn ‘Arabi, penulis Sufi yang terkenal itu, dalam menjawab persoalan ‘Dengan apakah Allah membedakan setiap pesuruh atau rasul-Nya?’, dia menjawab:

 

Allah memberikan Adam pengetahuan an Nama-nama Agung, kepada Musa dengan berbicara kepadanya dan dengan Taurat, dan membedakan Rasulullah [Muhammad] apa yang Muhammad sebutkan sendiri  “Ia diberikan kebesaran berbicara”.  Kepada Isa Allah membedakannya dengan  roh, ditambah dengan meniupkan roh pada yang ia ciptakan dari tanah, itu hanya kepada Isa saja,dan Allah tidak menambah kuasa untuk memberi kehidupan melalui hembusan  kepada rasul yang lain kecuali Isa, selain dari diri Allah Yang Maha Tinggi sendiri. [137]

 

         Perbedaaan antara Musa dan Isa ini samalah dengan cerita tentang seorang lelaki keturunan Arab yang menikahi seorang isteri berbangsa Amerika.  Isterinya tidak bisa berbicara Bahasa Arab, maka ketika mereka pergi melawat ibunya yang memang tidak bisa bercakap Bahasa Inggeris, dia mendesak isterinya untuk bercakap sesuatu dalam Bahasa Arab.  Ibu mertuanya merasa sangat gembira.  Si isteri itu terus berkata sesuatu dalam Bahasa Arab tetapi hanya bila dibantu oleh sang suami.  Sebaliknya si suami, sudah tentu bisa bercakap Bahasa Arab dengan lancar tanpa membutuhkan apa-apa pertolongan dari siapapun karena itu adalah bahasa ibunya.

         Itulah perbedaan antara Isa dengan Musa.  Musa sama seperti si isteri berbangsa Amerika yang membutuhkan desakan dan dorongan, sedangkan Isa berada dalam keadaan yang gampang saja karena sudah biasa dengan kuasa Allah, karena dia datang dari Allah; sesungguhnya dia adalah Firman Allah.  Sama seperti sang suami berbangsa Arab tadi yang mempunyai penguasaan sepenuhnya atas Bahasa Arab, dan tidak butuh dorongan serta bantuan dari siapapun untuk berbicara dalam bahasanya, begitu juga dengan Isa yang bisa menggunakan kuasa Allah.  Dia menggunakannya dengan begitu lancar sama seperti orang yang sedang memakai bahasa ibunya sendiri.

        

Isa Menghembuskan Kehidupan; Musa Tidak

 

Satu lagi perbedaan antara mujizat-mujizat Isa dan yang dipunyai Musa ialah Isa menghembuskan kehidupan kepada benda mati, Musa tidak.  Musa langsung tidak meniupkan apa-apa kepada tingkat tersebut untuk menjadikannya seekor ular hidup, sedangkan Isa menurut Al-Qur’an meniupkan nafas kepada tanah liat dan menciptakan suatu benda hidup.  Perbuatan penghembusan Isa untuk tujuan memberikan kehidupan kepada burung  tak bernyawa itu menunjukkan bahwa kuasa datang dari dalamnya, sama seperti nafas datang dari dalam seseorang.

         Sama seperti nafas Isa adalah kepunyaannya, begitu juga dengan inisiatip untuk melakukan mujizat itu yang kepunyaannya secara esklusif.  Tanpa sembarang persoalan kuasa untuk melakukan mujizat-mujizat dan mencipta adalah kepunyaan Allah, tetapi Isa sebagai Firman Allah itu juga bisa menggunakan kuasa Allah semaunya, dengan kebebasan yang lengkap dan mutlak.  Sebaliknya Musa tidak diberikan kuasa yang sama untuk melakukan mujizat semaunya, tetapi  didorong untuk melakukan pekerjaan tertentu dengan kuasa yang datang dari luar dirinya, yaitu dari Allah. Menurut Ibn ‘Arabi, akhli Sufi agung itu:

Isa dibedakan oleh Allah dengan sebagai suatu  roh, ditambah dengan sifat-sifat istimewa yang bisa meniupkan kehidupan kepada apa yang dia ciptakan dari tanah liat. Kuasa untuk memberi kehidupan melalui hembusan tidak diberi kepada rasul yang lain oleh Allah kecuali Isa, selain dari diri Allah Yang Maha Tinggi sendiri. [138]

 

         Bila Isa mencipta dari tanah liat dia menghembuskan ke dalam tanah tersebut.  Bila dia membangkitkan orang mati, dia mengucapkan kata perintah.  Cara dia mencipta dan membangkitkan yang mati menujukan kepada proses ilahi dengan mana Allah mencipta Adam dari tanah dan kemudian meniup ke dalamnya.  Tambahan pula, bila Allah hendak sesuatu terjadi Dia hanya mengucapkan kata ‘Jadilah!’ dan maka terjadilah ia.  Beginilah caranya Isa membangkitkan orang mati.  Allah telah memberi Isa wibawa ini dan dengan berbuat demikian Dia menyokong keilahian Isa.           

Musa Harus Dipersiapkan; Isa Sudah Siap

 

Sedangkan Musa butuh persiapan untuk melakukan mujizat-mujizat di depan Firaun, Isa tidak butuh persiapan sedemikian.

         Allah menyediakan Musa sebelum Dia membimbing Musa untuk menantang Firaun.  Jika Allah tidak memerintah Musa untuk melakukan mujizat tersebut di depan Firaun tanpa sebarang persiapan awal, apabila tongkat itu berubah menjadi ular, Musa tentu akan lari karena ketakutan seperti yang dia lakukan di depan Allah.  Firaun pasti akan menertawakannya.  Tapi Allah menyiapkan Musa untuk pertemuannya dengan Firaun dan meyakinkannya kuasa-Nya.  Musa butuhkan keyakinan tersebut karena dia tidak ada pengetahuan sebelumnya tentang kuasa Allah.

         Bagaimanapun, tidak sedemikian halnya dalam kasus Isa.  Isa tidak perlu praktis untuk melakukan mujizat sebelum konfrantasi dalam situasi sebenarnya.  Kita tidak diberitahu di manapun Allah mengambilnya ke sebuah gunung untuk meyakinkannya akan kebolehannya untuk membangkitkan orang mati dalam pelayanannya di masa akan datang.

         Nabi-nabi lain seperti Musa, perlukan keyakinan sedemikian.  Ibrahim misalnya, memerlukan keyakinan semula seperti yang kita baca dari Al-Qur’an di mana Ibrahim berkata:

 

Dan ingat pulalah ketika Ibrahim berkata: ‘Wahai Tuhanku, bagaimana caranya Engkau menghidupkan kembali orang-orang yang sudah mati?’ Allah berfirman: “Apakah engkau masih belum percaya?” Ibrahim menjawab: ‘Bukan aku tidak percaya, tetapi demi ketenteraman jiwaku’.  Allah berfirman: “Kalau begitu tangkaplah empat ekor burung lalu jinakkanlah sampai menurut perintahmu!  Kemudian letakkanlah di tiap-tiap bukit, seekor!  Sudah itu, panggilah! Nanti kesemuanya akan berdatangan kepadamu dengan segera.  Ketahuilah bahwa Allah Maha Perkasa dan Bijaksana.” [139]

 

         Maka kita lihat bahwa walaupun Ibrahim dipanggil sebagai ‘sahabat Allah’, dia pada suatu ketika juga kekurangan ketenteraman jiwa yang datang dari pengetahuan penuh bahwa Allah itu Maha Perkasa.

         Isa mempunyai keyakinan yang Ibrahim butuhkan akan kuasa Allah.  Isa senantiasa mempunyai keyakinan tersebut, karena dia mempunyai pengetahuan dipenuhkan Allah sepanjang masa. Kita percaya bahwa di mana kita tidak bisa melihat, tapi setelah melihat pengalaman kita itu tidak akan dipanggil sebagai kepercayaan tetapi pengetahuan.  Tidak seperti Ibrahim, Isa mempunyai pengetahuan akan kuasa Allah karena dia sendiri ialah Firman Allah itu.

         Manusia biasanya mencoba menggelakkan untuk melakukan sesuatu di depan orang ramai sesuatu yang belum pernah mereka lakukan, terutama perkara-perkara yang tampaknya mustahil.  Isa melakukan mujizat tanpa persiapan atau latihan sebelumnya, dan lebih dari itu, dia lakukannya di depan mata semua orang banyak.  Isa tidak membuat experimen dengan burung-burung, atau dia pergi ke kuburan sendirian untuk mencoba membangkitkan orang mati secara sendirian agar dia mendapat keyakinan untuk melakukannya di depan orang banyak.  Ketika Isa membangkitkan orang mati yang pertama, dia lakukan tanpa satu latihan sebelumnya dan apa lagi dia melakukannya di depan orang banyak.

         Dapatkah anda bayangkan seorang berdiri di depan suatu beban seberat 5000 kg yang dia belum pernah lakukan sebelumnya.  Orang yang mencoba lakukan itu mungkin bergurau ataupun dia sudah tau bahwa dia bisa mengangkat beban seberat itu.  Orang biasanya tidak mau mempermalukan diri mereka sendiri.  Ini juga berlaku pada Isa ketika dia berdiri di depan orang yang baru dibangkitkannya beberapa menit sebelumnya.  Itu adalah percobaannya yang pertama, tetapi dia tidak sangsi bagi orang itu akan mengikuti perintahnya untuk bangkit, sama seperti anda dan saya yang tidak sangsi apabila kita memasukkan kunci pintu rumah kita dan pintu akan terbuka.  Kita bisa melihat keyakinan dan jaminan Isa akan kuasa Allah dan pengetahuan akhir Isa akan Allah.  Ini memberitahukan kita akan kesatuan (wahadat) dan hubungan antara Allah dengan Firman-Nya, Isa Al Masih.  

 

Musa Rasa Asing dengan Kuasa Allah; Isa Sudah Biasa

 

Musa adalah seorang asing di hadirat kuasa Allah sehingga  apabila tongkat itu bertukar menjadi ular, dia kaget bahkan merasa takut akan keputusan itu. Sebaliknya Isa sudah biasa dengan kuasa Allah.

         Ini adalah seperti seseorang yang pergi membeli sebuah meja bekas dari seorang laki-laki yang menjual semua perabot rumahnya karena mau berangkat ke luar negeri, di satu alamat rumah di mana dia belum pernah pergi ke tempat itu. Ketika dia sampai di alamat tersebut dan bertanya di depan rumahnya, dia diberitahu bahwa tuan rumah baru keluar dan akan kembali dalam tempoh sepuluh menit lagi.  Si pembeli itu berdiri di depan rumah dan memperhatikan semua mobil yang lewat atau mampir karena mungkin salah satu dari mereka adalah si tuan rumah.  Beberapa menit kemudian sebuah mobil mampir ke rumah tersebut tapi sipembeli tau itu bukan tuan rumahnya karena mobil itu bergerak perlahan dan sopirnya mencoba mencari nomor-nomor rumah. Dua buah mobil lagi datang dengan cara yang sama dan sipembeli juga sadar mereka bukanlah tuan rumah tersebut karena mereka mengemudikan mobilnya dengan perlahan sekali.  Beberapa menit kemudian, sebuah mobil lagi datang melaju lebih tepat dan terus masuk ke dalam halaman rumah.  Kini sipembeli tau itulah tuan rumah, karena dia tidak seperti yang lainnya.

         Musa, adalah seperti sopir yang menghampiri rumah dengan perlahan, karena tidak biasa dengan kekuasaan Allah dan bergerak perlahan ketika dia menerima pengarahan dari Allah.  Sebaliknya Isa berperilaku seperti tuan rumah tadi, dengan kebebasan yang penuh dan spontan.  Baik pengunjung ataupun tuan rumah bisa mencari alamat rumah tersebut, tetapi ada perbedaan yang besar di antara mereka. Tuan rumah sangat mengenali rumahnya, sedangkan si pengunjung tidak.  Juga, tuan rumah mempunyai jalan masuk ke rumahnya dan ke semua harta-bendanya, tetapi si pengunjung harus meminta keizinan untuk masuk begitu pula menggunakan perabut dalam rumah tersebut.  Jadi, adalah benar baik pengunjung maupun tuan rumah bisa masuk ke dalam rumah, tetapi pengunjung hanya sebagai tamu,sedangkan tuan rumah mempunyai kunci-kunci dan pemilikan rumah itu secara sah.

         Kita bisa melihat perbedaan antara Isa dan nabi-nabi lain seperti Musa dan Ibrahim.  Jika Musa dipanggil sebagai ‘kaleem Allah’ (yang berarti, ‘orang yang Allah berbicara kepada’), bagaimanapun dia harus didorong  Allah untuk menjalankan pelayanannya; dan walaupun Ibrahim dipanggil sebagai ‘khaleel Allah’ (yakni, ‘sahabat Allah’), dia perlukan jaminan dan keyakinan akan kuasa Allah.  Sebaliknya Isa yang dipanggil ‘Kalimat Allah’ (yakni, Firman Allah) tidak perlu dorongan, jaminan ataupun keyakinan.  Firman Allah menyatakan Allah, dan oleh karena Allah tidak perlu dorongan ataupun jaminan, Firman-Nya juga tidak memerlukan kedua hal yang tersebut di atas.

 

 

Makna ‘Dengan Izin Allah’

 

Ada yang mungkin menolak bahwa ungkapan ‘dengan izin Allah’ membuat Isa juga perlu mendapatkan izin dari Allah untuk melakukan mujizat-mujizatnya, dan ini menyebabkan tidak ada perbedaan antara Isa dengan Musa pada akhirnya. Meskipun demikian, satu penelitian yang kritis tentang ungkapan ini dalam Al-Qur’an membuktikan yang sebaliknya.

         Ada beberapa yang berpendapat mengatakan Isa melakukan semua ini ‘dengan izin Allah’, [140] Al-Qur’an secara mengesankan menyangkal keilahian Isa.  Tetapi satu penilaian dan penelitian kritis akan pernyataan ini akan membuktikan justru.

         Makna umum tentang ungkapan ini adalah: Segala sesuatu adalah dengan izin Allah.  Tidak akan ada yang terjadi tanpa Izin Allah.  Segala yang baik dan buruk terjadi karena izin Allah.  Malapetaka yang menimpa atas orang-orang beriman adalah juga karena izin Allah.  Tidak ada seorangpun yang dapat memaksakan sesuatu keatas-Nya. [141]

         Tapi ungkapan ini juga menunjukkan berkah istimewa Allah dan persetujuan-Nya atas beberapa aktivitas tertentu. Contohnya, melakukan sesuatu kebaikan dengan izin Allah: ‘...dan ada di antara mereka yang paling dahulu mengerjakan kebajikan dengan izin Allah.  Warisan dan pilihan itu merupakan Karunia Besar.’ [142]   Mereka yang setia walaupun kecil jumlahnya dapat mengalahkan pasukan yang besar dengan izin Allah [143] , dan perkara-perkara sekecil apapun dalam perang terjadi dengan izin Allah: ‘Mana saja pohon kurma yang kamu tebang, atau kamu biarkan tumbuh seutuhnya di atas batangnya seperti apa adanya, semuanya terjadi dengan izin Allah.’ [144]   Mereka yang menebang pohon kurma atau membiarkan pohon itu tumbuh tidak perlu berhenti untuk meminta izin dari Allah.  Perilaku mereka adalah spontan sebagai yang terbaik untuk mereka lakukan.  Namun kelakuan mereka adalah dengan izin Allah.  Bahkan sebatang pohon ‘juga menghasilkan buah setiap musim dengan izin Tuhannya.’ [145] Sebatang pohon tidak berhenti berbuah atau sebaliknya dengan izin Allah.  Dengan kata lain, Allah memberi berkah-berkah-Nya atas aktivitas-aktivitas semacamnya.

         Sekarang kita bisa melihat bahwa kewajiban normal melakukan pekerjaan yang baik, semangat berperang bagi pasukan yang kecil, bahkan produksi alami sebatang pohon, dan pekerjaan secara spontan untuk menebang atau tidak menebang pohon-pohon di suatu waktu semuanya adalah dengan izin Allah.  Bukannya mereka yang terlibat itu harus berhenti untuk meminta izin dari Allah, seperti yang kebanyakan orang pikirkan.

         Sama seperti Allah menyertai mereka yang setia walaupun pasukan mereka sedikit, memberi dan memperkukuhkan perkara mereka dengan izin-Nya, begitu juga Dia lakukan terhadap Isa, yang memberikan dan memperkokohkan keilahiannya yang membiarkan dia membangkitkan orang mati dan mencipta.  Sama seperti sebatang pohon yang berbuah secara alami dengan izin Allah, begitu juga dengan mujizat-mujizat yang dilakukan oleh Isa secara alami.  Dan sama seperti yang menebang pohon secara spontan, ia melakukannya dengan izin Allah. Begitu juga dengan Isa yang melakukan mujizat-mujizat yang ilahi.

         Isa merupakan satu-satunya yang di mana setiap tindakannya berada dalam satu cara yang istimewa ‘dengan izin Allah’, yakni, dengan kehendak dan persetujuan Allah. Pengulangan ungkapan ‘dengan izin Allah’ menunjukkan bahwa Allah sesungguhnya terlibat, sanggup, membenarkan dan memberkahi manifestasi kuasa-kuasa ilahi Isa Firman-Nya itu – bukan yang berpendapat atau menyangsikannya.

         Qashani melanjutkan pemahaman kita:

 

Ketahuilah bahwa ‘dengan izin Allah’ (izn) bermakna pemberian kekuasaan/wewenang Allah terhadap hamba-Nya untuk melakukan...apa yang hanya merupakan milik Allah...juga bermakna bahwa hamba itu telah ditugaskan diberi kuasa dari kekekalan, dan telah dibedakan atas kebolehannya.  Maka ia adalah sabda Allah dari kekekalan bahwa intisari hamba itu secara alami diturunkan untuk mengerjakan tugas-tugas tersebut.  Dan itulah kepedulian Allah atas hamba-Nya itu. [146]

 

         Jadi menghidupkan orang mati ialah penempatan alami abadi dari intisari Isa.  Kuasa untuk membangkitkan orang mati itu ialah satu yang memerlukan sifat dasar Isa dari keabadian, bukan satu sifat harta/kekayaan yang hanya dipunyai atas waktu.

         Manusia bersama-sama dengan sebagian sifat-sifat Ilahi seperti pengetahuan akal, kuasa, kehidupan dan kebijaksanaan.  Tapi semua ini adalah terbatas dalam diri kita.  Kepada setiap orang, baik petani atau nabi, dapat dipertalikan pengetahuan sedikit, tapi Allah-lah yang Maha Mengetahui.  Kuasa dapat dipertalikan sedikit kepada semua orang, tapi Allah-lah yang Maha Kuasa.  Setiap orang bersifat kehuripan sedikit, tetapi Allah-lah yang Maha Hidup.  Dan bagi semua orang, derajat kebijaksanaan dapat dipertalikan sedikit, tapi Allah-lah yang Maha Bijaksana.

         Kendatipun demikian, ada beberapa sifat-sifat yang hanya dimiliki Allah saja.  Kita tidak bisa menganggap manusia sampai mempunyai derajat mana kuasa untuk mencipta dan memberi kehidupan dengan cara mengeluarkan kata atau penghembusan nafas.  Jika Allah adalah Maha Mengetahui, Maha Bijaksana dan Maha Kuasa, Dia mungkin hanya merupakan seorang ‘Super Man’.  Tapi sifat-sifat yang meletakkan Allah di tempat tertinggi dalam maha sucinya mengatasi segala makhluk-makhluk ciptaan, ialah kuasa-Nya untuk mencipta dan membangkitkan orang mati.  Dialah pemberi hidup.  Kuasa untuk memberi kehidupan dengan cara mengeluarkan kata atau penghembusan nafas itulah sifat-sifat pribadi Allah.

         Namun kuasa itu Dia berikan kepada Isa Al Masih.  Di kala orang lain berhadapan dengan penyakit dan maut, mereka biasanya pertama kali berdoa atas intervensi Tuhan Yang Maha Tinggi.  Mereka berdoa dan membiarkan segala keputusannya di dalam tangan Allah. Isa sebaliknya berada dalam perintah yang sempurna ketika menghadapi situasi tersebut.

         Sebab itulah Al-Qur’an menceritakan pekerjaan-pekerjaan Isa membangkitkan orang mati serta mencipta dari tanah liat itu dengan kata ganti orang pertama: ‘Aku dapat membuat [mencipta]...Aku tiup ke dalamnya...[Aku] menghidupkan orang yang mati’:

 

Aku in datang kepadamu membawa tanda mujizat dari Tuhanmu yaitu aku dapat membuat dari tanah liat ini rangka burung untuk kalian, kemudian aku tiup lalu menjadi seekor burung dengan izin Allah. Dan aku sanggup menyembuhkan orang buta, penyakit sopak [kusta], dan menghidupkan orang mati dengan izin Allah. Lagi pula aku dapat memberitahukan kepada kalian apa yang kalian makan dan apa yang kalian simpan di rumah kalian masing-masing.  Semua ini adalah menjadi tanda buat kalian, kalau kalian benar-benar beriman. [147]

 

         Kemampuan untuk memberi kehidupan ialah satu sifat pribadi Allah, seperti yang Qashani katakan: ‘Kehidupan ialah satu milik hadirat Ilahi, dari itu  sesungguhnya ia adalah sifat yang paling sempurna dari Intisari Ilahi tersebut.’ [148]   Kehidupan adalah tanda Ilahi; tanpa sifat Ilahi itu akan jatuh dari derajat yang tinggi ke derajat makhluk.  Namun, sifat milik intisari Ilahi itu menjadi sifat pribadi seorang manusia. Sekali lagi, Qashani berbicara tentang ‘penjelmaan sifat-sifat Allah didalamnya [Isa], dan penampilan tindakan pribadi Allah – membangkitkan orang mati dan mencipta burung...keduanya adalah pekerjaan-pekerjaan esklusif Allah’ [149] .  Isa membangkitkan beberapa orang; di dalam semua kasus, dia mengerjakannya dengan izin Allah.

         Sifat(attribut) mencipta ialah satu sifat awal.  Sedangkan pembangkitan orang mati adalah satu sifat akhir.  Kedua sifat yang sangat penting ini menunjukkan bahwa Isa mempunyai kuasa dan kontrol dari awal hingga akhir.

         Jika Allah telah membenarkan dan mengizinkan Isa menyatakan Keilahian-Nya dengan cara demikian, bisakah manusia menentang kebenaran dan maksud Allah?  Dengan memberikan Isa kuasa untuk mencipta dan membangkitkan orang mati, Allah secara sengaja mendeklarasikan bahwa Isa tidak tergolong dalam orde yang dicipta tetapi orde yang Ilahi.

 

 

Diperkuat dengan Roh Suci

 

Bimbingan yang berkesinambungan dari  Roh Suci dengan Isa tidak lagi diartikan sebagai bimbingan Jibril.  Karena ayat-ayat Al-Qur’an tidak menyatakan bahwa Isa diperkuat dengan Jibril tetapi dia telah diperkuat dengan Roh Suci.  Maka Roh Suci tidak lagi diartikan sebagai merujuk kepada pemimpin bagi malaikat-malaikat yang memimpin mereka di sekitar Takhta Allah, atau Jibril yang berada di tempat kedua setelah Allah.  Tetapi, ia adalah Roh Total yang:

 

melebihi dan mengatasi skop dan jarak perintah daya cipta Ilahi “Jadilah!”.  Ia tidak boleh dikatakan oleh -Nya bahwa dia adalah suatu makhluk, karena dia ialah aspek istimewa [yakni, ‘wajah’] Kebenaran [yakni, dari Allah] itu.  Dengan aspek tersebut penjelmaan itu menjadi nyata. [150]

 

         Dengan kata lain, Isa telah diiringi secara berkesinambungan oleh Roh yang melebihi dan mengatasi rentang serta jarak perintah daya cipta  Ilahi, yakni, melebihi dan mengatasi perintah yang menyebabkan penjelmaan menjadi nyata.

         Ibn ‘Arabi, yang dipercayai dan dikatakan sebagai segel kepada orang-orang alim pengikut Muhammad, pernah berkata tentang tahap kedekatan dengan Allah, ‘ini bukannya sesuatu yang berkesinambungan, tetapi [hanya] sewaktu-waktu’. [151]   Mengenai kenyataan ini, Qashani mengulas, ‘kedekatan kepada Allah ini melalui kegiatan dan tanggungjawab keagamaan tidak kekal di dalam kita tetapi hanya berlaku sewaktu-waktu’. [152] Namun dengan Isa, pengalamannya bukanlah satu ‘kedekatan’, tetapi berada betul-betul di dalam hadirat wajah Kebenaran yang melaluinya itu segala kehidupan menjelma.  Bukan itu saja, tetapi juga hadirat itu adalah kekal.  Ini dilihat dari dua fakta yang penting:

 

1.  Isa selalu berbicara tentang firman Allah

         Setiap kali para nabi berkata, percakapan mereka bisa dibagikan menjadi dua jenis.  Ketika mereka di bawah pengguasaan Roh Suci, kata-kata yang mereka ucapkan bukan kata-kata mereka sendiri tapi itu adalah kata-kata Allah.  Walaupun mereka manusia, namun kata-kata mereka itu bukan kepunyaan mereka tetapi kepunyaan Allah secara total, yang tidak boleh dipisah-pisahkan atau diubah.  Roh Suci memastikan tidak ada kehilangan yang bisa datang dari berita yang mereka sampaikan dari Allah.  Tapi ketika mereka bukan berada dalam penguasaan Roh Suci, kata-kata yang mereka tuturkan adalah kata-kata mereka sendiri.  Ini mungkin benar dan mungkin juga tidak.

         Kehidupan Isa di dalam dunia ini, bagaimanapun, tidak boleh dibagikan menjadi waktu dia di bawah inspirasi dari Allah dan waktu-waktu dia bukan dalam keadaan yang demikian, justru kata-kata yang diucapkannya kadang-kadang kepunyaan Allah dan ada kalanya kepunyaannya sendiri.  Kehidupan Isa di bumi adalah sesungguhnya satu yang tidak diganggu – yakni, ia berada di bawah inspirasi Allah secara total.  Semua kata-katanya adalah firman Allah. Semua waktu Isa adalah waktu Allah.

 

2.  Isa senantiasa menunjukkan kehidupan Allah

         Ketika Roh Suci mengendalikan penuturan para nabi, kata-kata mereka menjadi Firman Allah.  Tapi apa yang berlaku jika Roh Suci mengendalikan seluruh aspek kehidupan seseorang? 

         Isa berlainan dari semua nabi-nabi.  Ketika nabi-nabi berkata, satu berita dari Allah dinyatakan melalui mulut mereka.  Tetapi mulut-mulut hanya bisa menyampaikan pesan-pesan saja, dan bila berbuat demikian hanya pada suatu waktu tertentu.  Jadi dalam kasus nabi-nabi, alat yang Allah gunakan ialah mulut mereka dan di suatu waktu yang tertentu.

         Tapi dalam kasus Isa, alat yang Allah gunakan ialah pribadi totalnya, dan kekal sepanjang waktu!  Bukan saja semua kata-katanya adalah kata-kata Allah, tapi juga semua pekerjaannya adalah pekerjaan Allah, dan semua pemikirannya adalah pemikiran Allah.  Dalam semua kehidupan Isa – pikiran, hati dan pribadi keseluruhannya – kehidupan Allah dimanifestasikan.

         Dalam kasus yang melibatkan nabi-nabi lain, berita dan pesan dari Allah yang keluar dari mulut mereka penuh dengan undang-undang, peraturan dan perintah; mereka seperti seorang pengantar surat/pegawai pos yang mengantar surat-surat dari Allah.  Mereka menyatakan firman Allah, tapi dalam Isa, Allah dinyatakan secara pribadi – bukan sebagai berita/pesan dari Allah tetapi kehidupan Allah yang dimanifestasikan dalam Isa yang wujud dalam bentuk manusia.

         Maka kita bisa berkata, sepakat dengan Jilani [153] , bahwa Allah menjadi pendengaran dan penglihatan Isa, tangan dan lidah serta nafas Isa.  Dalam dalam kata-kata Tirimizi:  

Allah telah menambat hatinya sepanjang hayat hidupnya, dan mencurahkannya dengan pengetahuan syurgawi-Nya, dan mempersembahkannya dengan tauhid-Nya, dan melindungi jalannya dari kecacatan melihat  diri, dan bayang-bayang nafsu....Dia adalah kepunyaan-Nya di bumi-Nya ini! [154]         

 

Keunikan Penguatan Tersebut

 

Tapi mengapa pula hanya seorang diri yang dipilih untuk penguatan [Roh Suci] ini? Banyak orang yang menghabiskan hidup mereka berusaha, tapi hanya seorang saja yang mengalami pengalaman tertinggi itu sejak lahir.  Hanya seorang saja yang layak dibimbing secara kekal oleh Roh Allah, dan tidak sekali-kalipun terjadi ketidak-harmonis atau pertentangan di antara mereka.  Mengapa?

         Kodrat Isa sesungguhnya adalah Ilahi yang abadi, maka dia mempunyai  kapasitas untuk seiring secara harmonis yang kekal dengan Roh Suci, Roh Allah, Roh Total itu.  Maka kodrat Isa, yang juga adalah satu Roh Sempurna, bisa menampung Roh Total itu, pada setiap dan sepanjang waktu. Kapasitas ini bukanlah sesuatu yang bersifat manusiawi tetapi Ilahi.

         Adalah penting untuk dicatat kiranya bahwa ketika manusia bisa mengalami Roh itu, walaupun hanya sedetik, mereka akan merasa dibanjiri dengan Kuasa dan Keagungan serta Kemuliaan yang luar biasa.

         Tapi dalam kasus Isa, yang diiringi secara kekal Roh Total itu tidak akan merasa dibanjiri.  Dia tetap tinggal seperti orang yang sama sepanjang waktu. Bila dia membangkitkan orang mati dia tidak merasa kegirangan karena satu mujizat telah terjadi.  Mujizat itu membuatnya seolah-olah dia telah kerap kali melakukannya sebelum itu, sepanjang hidupnya; kepribadiannya juga tidak berubah karena mujizat itu, sama seperti kita tidak merasa apa-apa bila memaku sekeping papan atau mengikatkan tali sepatu kita. Mereka yang melihatnya itulah, bahkan mereka yang telah mati, yang merasa dibanjiri perasaan heran. Manifestasi sifat-sifat pribadi Allah keatasnya membuat Isa tetap seorang insan yang sama.  Dia tidak menunjukkan rasa takut, gentar, atau tidak sama sekali ada asesuatu yang bersifat abnormal.

         Mengapa begitu?  Karena dia mempunyai kapasitas untuk menampung Roh Total itu.  Kapasitas itu bukan kapasitas suatu makhluk tapi kapasitas Firman Allah yang Ilahi, yaitu kodrat Isa.

         Seperti yang kita telah lihat, Roh Suci juga adalah Ilahi yang abadi.  Maka arti sebenarnya dari ‘Kami perkuatkannya dengan Roh Suci’ ialah bahwa semasa berada di bumi, Isa Firman Allah itu berada di dalam Kemahaan Keluhuran Ilahi yang sukar digambarkan untuk sepanjang masa, walaupun dia berada dalam wujud seorang manusia.

 

 

 

Dia Berserta Allah

 

Sejak penciptaan Adam, Allah memilih hanya seorang dari antara milyaran orang yang telah hidup, dan ratusan nabi-nabi yang Dia telah utus untuk diangkat naik ke sisi-Nya.  Al-Qur’an mengatakan:

 

Hai Isa! Aku akan mewafatkan engkau, dan mengangkat derajatmu di sisi-Ku. [155]

 

         Bagaimana seorang manusia biasa bisa diangkat ke sisi Allah sendiri?  Bagaimana bisa seorang manusia biasa berdiri di depan Kemuliaan, Kuasa dan Kesucian Yang Maha Tinggi?  Razi mengulas bahwa dalam ayat di atas Allah seraya berkata: ‘Aku mengangkatmu ke dalam Hadirat Kehormatan Ku’.  Tapi bagaimana suatu makhluk bisa diangkat ke tempat Kehormatan Allah?

         Untuk hampir 2000 tahun sejak dia berjalan di bumi ini, Isa telah tinggal bersama Allah, jauh lebih tinggi dari para malaikat dan manusia, menikmati wajah Allah dan dikasihi oleh Allah. Dengan pengangkatan Ilahi,Isa sesungguhnya lebih tinggi dari segalanya.  Dia hidup dan bersama Allah.  Inilah hormat yang tertinggi sepanjang masa, zaman dan abadi.

         Al-Qur’an menyatakan:

 

Tidak sama orang yang buta dan orang yang melihat.  Tidak pula sama gelap gulita dengan cahaya.  Tidak pula sama yang teduh dengan yang panas terik. Tidak pula sama orang yang hidup hati nuraninya.  Sungguh Allah dapat membuat siapa saja yang Dia kehendaki mampu mendengar. [156]

 

         Jika di sini dan waktu ini, di bumi ini di mana yang hidup itu tidak sama dengan yang mati, apa lagi apabila yang hidup itu hidup bersama Allah! Untuk hidup di sini adalah satu hal; dan untuk hidup bersama Allah adalah hal yang berlainan sama sekali.  Karena bagi dia yang hidup bersama Allah harus memiliki kebolehan untuk hadir dalam tingkat hidup yang tak bisa dibayangkan.  Dia mesti mempunyai kualitas hidup dalam dirinya yang membuat dia begitu biasa dengan Kemegahan dan Kekudusan Allah.

         Jika seorang insan itu tidak layak untuk berada dalam hadirat Allah, dia akan menarik diri dengan sukarela, jika tidak dia akan dimusnahkan oleh Kemegahan Allah.  Isa memiliki baik kebolehan maupun kualitas untuk bersama dengan Allah.

         Bukhari menyebut Hadis berikut yang disahkan oleh ‘Aisha:

 

Siapa saja yang menggugat bahwa Muhammad melihat Tuhannya melakukan satu kesilapan besar, bahwa dia [Muhammad] hanya melihat Jibril dalam bentuk aslinya di mana dia telah diciptakan. [157] [Perhatikan bila Hadis menyebut tentang Jibril, ia bermaksud Malaikat Jibril]

 

         Mengenai kemungkinan bagi seseorang melihat Allah, Al-Qur’an menyatakan:

 

Tatkala Musa datang pada waktu yang telah Kami tetapkan itu dan Tuhanpun telah berbicara langsung dengannya, berkatalah Musa: Wahai Tuhanku! Perlihatkanlah diri-Mu kepadaku, agar aku dapat melihat-Mu.  Allah berfirman: “Di dunia ini tidak mungkin engkau dapat melihat Aku.  Tetapi baiklah, lihatlah bukit itu! Kalau bukit itu masih tetap tegak di tempatnya semula mungkin engkau dapat melihat Aku”.  Tatkala Tuhan mula menyingkap nur-Nya kepada bukit itu, dengan serta-mesta hancur luluhlah bukit itu.  Musapun tersungkur jatuh pingsan.  Setelah Musa sadar kembali berkatalah ia: “Maha Suci Engkau! Aku bertobat kepada-Mu! Aku orang yang pertama mula beriman.” [158]

 

         Menurut ayat ini Allah menjawab permintaaan Musa dengan satu kenyataan dan satu illustrasi.  Keduanya adalah begitu terang sekali, meyakinkan dan sempurna. Kenyataan itu ialah “Engkau tidak bisa melihat Aku’.  Illustrasi itu ialah penglihatan-diri yang Allah tunjukkan kepada bukit tersebut.  Pengajarannya ialah: jika Allah menunjukkan diri-Nya kepada Musa dan bukannya bukit itu, Musa mungkin akan hancur lebur menjadi debu.

         Penterjemahan bagi kata ‘sa’akan’ dalam ayat di atas ialah ‘jatuh pingsan’ sebenarnya tidak memberi arti yang sebenarnya.  Kata dasar bagi kata itu berarti ‘mati’, menurut satu kosakata (lexicon)  Al-Qur’an. [159] Maka penterjemahan yang lebih tepat ialah Musa jatuh tersungkur seolah mati.  Allah tidak menampakkan diri-Nya kepada Musa tetapi kepada bukit; namun walaupun begitu, Musa jatuh seolah mati.  Jika ini hanyalah satu kesan sampingan penampakan Allah kepada bukit, apa yang akan terjadi jika Allah menampakkan diri-Nya kepada Musa seperti yang dipintanya itu?

         Jika hanya untuk melihat Allah begitu mustahil sekali untuk seorang nabi besar seperti Musa, siapakah Isa, yang bukan saja melihat Allah, tetapi juga diangkat naik ke sisi Allah? Dan bukan untuk sehari, tetapi sudah hampir 2000 tahun!

 

Dari Tanah ke Tanah atau Dari Allah ke Allah

 

Hanya dia yang datang dari Allah yang mampu untuk bisa bersama Allah.  (Ingatlah, Al-Qur’an menyatakan bahwa Isa ialah ‘Roh dari-Nya’ [160] ) Hanya dia yang datang dari Allah bisa balik untuk bersama-sama dengan Allah.  Hanya Firman Allah, Isa, yang bisa mencari kembali tempatnya di dalam Allah, secara sah dan alami.

         Manusia lain adalah dari tanah dan kepada tanahlah mereka pergi, tapi Isa ialah dari Allah dan kepada Allah dia pergi, dan untuk bersama Allah dia pergi.  Ini hanya mungkin terjadi jika Isa ialah Firman Allah yang Kekal.

         Sekali lagi kalau kita perhatikan hal ini adalah konsisten dengan interpretasi di mana Isa diperkuat dengan Roh Suci.  Jika Isa berada dalam Kemahaan Keluhuran Ilahi yang sukar digambarkan ketika dia berada di bumi, maka adalah alami baginya untuk berada di Kemahaan Keluhuran Ilahi yang tidak bisa digambarkan di dalam hadirat Allah.  Razi mengulas ayat Al-Qur’an, 4:158 bahwa:  

Pengangkatan Isa kepada Allah sebagai satu taufik adalah lebih besar dari Firdaus dan segala yang ada di dalamnya dan kenikmatan-kenikmatan fisiknya. [161]

 

         Isa tidak perlu menunggu untuk diberi ganjaran, seperti manusia-manusia lain yang terpaksa menunggu hingga  Hari Kiamat.  Nabi Idris diangkat ke suatu tempat tinggi menunggu Hari Kiamat, tapi ganjaran Isa ialah yang segera, dan merupakan kehormatan yang tertinggi sepanjang zaman dan abadi.  Karena Allah itulah taufiknya.  Semua manusia lain akan menghadapi Hari Kiamat untuk menerima balasan dan hukuman mereka.  Tapi menurut ayat ini, bagi Isa sendiri tidak ada Hari Kiamat.  Karena tidak ada apa-apa yang perlu dihakimi untuknya.

         Sama halnya bila kita meningat kembali penemuan Dr. Mustafa Mahmoud yang mengatakan:  

Roh tersebut tidak mempunyai tempat di Firdaus ataupun Neraka, tapi ia adalah nur cahaya dari terang Allah, berhubungan dengan Allah.  Roh datang daripada-Nya.  Ia tidak boleh tunduk kepada percobaan atau penghakiman, atau hukuman atau ganjaran, tapi ia adalah contoh tertinggi dalam ayat-ayat Al-Qur’an, ‘Allah mempunyai sifat-sifat yang sangat tinggi.  Dia Maha Kuasa dan Bijaksana’ (16:60) dan ‘Kepunyaan Dialah Cita Tertinggi dan Terindah di seluruh langit serta bumi ini.  Dialah yang Maha Perkasa dan Bijaksana’ (30:27). Ia adalah dunia sinar pancaran kesamaan yang didatangkan dari sinar serta kesuciannya bersama dan ‘dari’ Allah dan ‘dari’ perintah-Nya. [162]

 

         Adalah tidak aneh untuk menemukan bahwa Isa, tidak takluk kepada pencobaan atau penghakiman; dan tidak juga aneh untuk menemukan bahwa dia tidak berada di Firdaus tetapi bersama Allah.  Karena dia datang dari Allah.

         Pengangkatan Isa ialah kata terakhir Allah ke atas Keilahian Isa, Firman-Nya dan Roh-Nya itu.

 

Dia Tidak Berdosa

 

Dari mulai Adam sampai kepada kita di zaman ini, semua manusia telah berdosa.  Ghazali mengatakan bahkan ‘para nabi, yang tertinggi di kalangan manusia, secara terus-menerus meminta ampun dan menyesali dosa-dosa mereka’ [163] . Ada yang sudah bertobat dan meminta pengampunan dari Allah.  Dari Adam sampai kepada Muhammad dan sesudahnya semuanya telah berdosa.

         Bukhari mencatatkan doa Nabi Muhammad berikut:        

Ya Allah! Ampunilah kesalahan-kesalahanku dan kelalaian serta perbuatan-perbuatanku yang melampaui batas kemuliaan; dan ampunilah apa saja yang Engkau mengetahui lebih daripada aku sendiri.  Ya Allah! Ampunilah kesalahan yang aku telah lakukan samada secara berolok-plok atau serius, dan ampunilah kesilapan-kesilapanku baik yang disengajakan ataupun tidak, dan segala yang ada pada diriku’ [164]

 

         Hanya ada satu pengecualian saja yaitu Isa.  Dia tidak pernah berdosa.  Dia tidak pernah melakukan satupun kesalahan.  Dia tidak pernah melampaui batas Allah baik secara sukarela maupun ketidaktahuan, sengaja atau tidak sengaja, secara berolok-olok ataupun serius.  Dia tidak pernah meminta ampun.  Dia tidak pernah menyesali perbuatannya. Bukhari menyebutkan tentang satu Hadis di mana manusia pergi kepada nabi-nabi yang berlainan untuk berdoa sebagai perantara bagi mereka, dan bagi mereka semua Hadis menyatakan mereka berdosa kecuali Isa Al Masih. [165]

         Bukan saja orang-orang beriman di waktu terdahulu seperti halnya Bukhari percaya bahwa Isa tidak menpunyai dosa.  Seorang penulis moden menulis:  

Oleh karena itu Isa bebas dari noda-noda kejahatan dan kotoran....Kesucian ini, sejak Adam ada sampai dia disentuh oleh jari Syetan yang berakibat ia kehilangan kesucian tersebut, sekarang hanya tersisa ada pada Isa saja. [166]

 

         Jadi, tidak seperti Adam, yang telah dikalahkan oleh Syetan, Isa mengekalkan kesuciannya sepanjang hidupnya, dan dengan itu mengalahkan Syetan dengan kesetiaan yang sempurna kepada Allah.

         Di dalam keseluruhan Al-Qur’an, kita tidak pernah diberitahu bahwa Isa telah disuruh menjadi seorang Muslim atau Isa adalah seorang Muslim.  Masalah ini cukup jelas (signifikan) karena ada dua sebab:

         Pertama, menjadi seorang Muslim menunjukkan iman kepada satu Allah yang tidak kelihatan.  Syarat  untuk beriman tersebut mengandung arti ada  kekurangan pengetahuan tangan pertama.  Karena tidak ada seorangpun yang pernah melihat Allah, hanya dengan iman kita tahu akan Dia.  Ini berlaku bagi semua manusia.  Tapi tidak demikian halnya dengan Isa, karena Dia datang dari kodrat Allah.  Pengetahuannya terhadap Allah adalah langsung dan dari tangan pertama.

         Kedua, menjadi seorang Muslim bermaksud menyerah kepada Allah tetapi itu tidak terjadi pada Isa.  Isa tidak diperintah untuk menjadi seorang Muslim karena dalam sepanjang hidupnya, tidak perlu membuatnya menyerahkan diri pada Allah.  Dia adalah sempurna dalam segala hal.  Seperti yang Tirimizi tuliskan: ‘Allah telah menambatkan hatinya sepanjang hayatnya...Dia adalah kepunyaan Allah di bumi-Nya!’